Abbad Bin Bisyir – Pembawa Cahaya Allah

Posted: January 6, 2010 in .Sirah & Kisah Teladan.
Tags: , ,

بسم الله الرحمان الرحيم

Mush’ab bin Umair tiba di Madinah sebagai utusan Rasulullah saw. untuk mengajarkan ajaran Islam kepada orang-orang Ansar yang telah berbaiat kepada Nabi dan menjadi imam solat mereka. Saat itu, Abbad bin Bisyir termasuk orang yang hatinya telah diberi hidayah oleh Allah. Beliau datang ke majlis ta’lim Mush’ab, untuk mendengar penjelasannya. Tidak lama kemudian, beliau menyatakan keislamannya. Sejak itu, beliau berada dalam barisan kaum Ansar yang diredhai Allah dan mereka ridha kepadaNya.

Pada suatu hari, Nabi telah berhijrah ke Madinah selepas orang-orang beriman dari Mekah tiba terlebih dahulu. Bermulalah terjadinya peperangan-peperangan untuk mempertahankan diri dari serangan-serangan kafir Quraisy dan sekutunya yang tidak henti-henti memburu Nabi dan umat Islam. Kekuatan pembawa cahaya dan kebaikan bertarung dengan kekuatan gelap dan kejahatan.

Pada setiap peperangan itu, Abbad bin Bisyir berada di barisan hadapan, berjihad di jalan Allah dengan gagah berani dan bermati-matian dengan cara yang sangat hebat. Mungkin peristiwa yang kita paparkan di bawah ini dapat mengungkapkan sekelumit kisah dari kepahlawanan tokoh mukmin ini.

Setelah Rasulullah saw. dan kaum muslimin selesai menghadapi musuh dalam Perang Dzatur Riqa’, mereka sampai di suatu tempat dan bermalam di sana. Rasulullah memilih beberapa orang sahabatnya untuk berjaga secara bergiliran. Di antara mereka terpilih ialah ‘Ammar bin Yasir dan Abbad bin Bisyir yang berada pada satu pasukan.

Apabila Abbad melihat kawannya ‘Ammar sedang penat, beliau mencadangkan agar ‘Ammar tidur terlebih dahulu dan beliau akan berjaga. Apabila Ammar telah berehat dengan cukup, giliran ‘Ammar pula yang berjaga untuk menggantikannya.

Abbad melihat bahwa keadaan sekelilingnya aman. Maka, timbul sesuatu dalam fikirannya, mengapa beliau tidak mengisi waktunya dengan melakukan solat sehingga pahala yang akan diperoleh berlipat ganda? Kemudian beliau bangkit melakukannya.

Tiba-tiba, ketika beliau sedang berdiri membaca sebuah surah AI-Qur’an selepas membaca surah Al-Fatihah, sebuah anak panah menusuk di pangkal lengannya. Anak panah itu dicabut dan beliau meneruskan solatnya. Tidak lama kemudian datang pula anak panah kedua yang mengenai anggota badannya. Tetapi, beliau tidak ingin menghentikan solatnya. Beliau hanya mencabut anak panah itu seperti kali pertama, dan melanjutkan bacaan surahnya. Dalam gelap malam itu musuh memanahnya kembali . Untuk kali ketiga Abbad menarik anak panah itu dan mengakhiri bacaannya. Setelah itu, beliau ruku’ dan sujud, sementara tenaganya telah lemah disebabkan sakit dan penat. Ketika sujud, beliau menghulurkan tangannya kepada kawannya yang sedang tidur di sampingnya dan ditarik-tariknya hingga ia terjaga. Kemudian , Abbad bangkit dari sujudnya dan membaca tasyahud, lalu menyelesaikan solatnya.

Ammar terjaga setelah mendengar suara kawannya yang terputus-putus menahan sakit, “Gantikan aku untuk berjaga karena aku terkena panah.” ‘Ammar bangun dari tidurnya hingga menimbulkan ketakutan musuhnya. Mereka melarikan diri, sedangkan ‘Ammar berpaling kepada temannya seraya berkata, “Subhanallah! Mengapa engkau tidak membangunkanku ketika dipanah pada kali pertama tadi.” Abbad menjawab, “Ketika aku solat tadi, aku membaca beberapa ayat Al-Qur’an yang sangat mengharukan hatiku sehingga aku tidak ingin memutuskannya. Demi Allah, kalau tidak kerana akan mensia-siakan pos kawalan yang ditugaskan Rasul kepada kita, sungguh, aku lebih suka mati daripada meneruskan bacaan ayat-ayat yang sedang kubaca itu.

Abbad sangat mencintai Allah, Rasul dan agamanya. Kecintaan itu memenuhi segenap perasaan dan seluruh kehidupannya. Sejak Nabi saw. berpidato dan mengarahkan pembicaraannya kepada kaum Ansar, ia termasuk salah seorang di antara mereka.

Sabdanya, “Hai golongan Ansar! Kamu semua adalah inti, sedang golongan lain bagai kulit. Maka, tak mungkin aku dicederakan kalian.”

Sejak saat itu, yakni sejak Abbad mendengar ucapan ini dari RasulNya, dari guru dan pembimbingnya kepada Allah, ia rela menyerahkan harta, nyawa dan hidupnya di jalan Allah dan di jalan RasulNya. Karena itu, kita temui dia berada di arena pengorbanan dan medan perjuangan sebagai orang pertama. Sebaliknya, di waktu pembahagian keuntungan dan harta rampasan perang, sukar untuk menemuinya.

Di samping itu, ia adalah seorang ahli ibadah yang tekun , seorang pahlawan yang gigih dalam berjuang, seorang dermawan yang rela berkorban, dan seorang mukmin sejati yang telah menyumbangkan hidupnya untuk keimanannya. Kelebihannya ini telah dikenali di antara sahabat-sahabat Rasul.

Aisyah, Ummul Mu’minin, pernah berkata tentang dirinya, “Ada tiga orang Ansar yang kelebihannya tidak dapat ditandingi oleh seorang pun. Mereka adalah Sa’ad bin Mu’adz, Usaid bin Hudhair, dan Abbad bin Bisyir.”

Orang-orang Islam golongan pertama mengetahui bahwa Abbad adalah seorang tokoh yang memperolehi kurnia berupa cahaya dari Allah. Penglihatannya yang jelas dan terang, dapat mengetahui tempat-tempat yang baik dan meyakinkan tanpa mencarinya dengan susah-payah.

Bahkan, kepercayaan sahabat-sahabatnya mengenai cahaya ini sampai pada tahap yang lebih tinggi, bahwa beliau merupakan benda yang dapat terlihat. Mereka sepakat berkata bahwa bila Abbad berjalan di waktu malam, terbitlah darinya bekas-bekas cahaya dan sinar yang menerangi jalan yang akan dilaluinya.

Dalam peperangan menghadapi orang-orang murtad setelah wafat Rasulullah saw., Abbad memikul tanggungjawab dengan keberanian yang tiada tandingan. Apalagi dalam pertempuran Yamamah, di mana kaum muslimin menghadapi bala tentara yang paling kejam dan paling berpengalaman dibawah pimpinan Musailamah al-Kadzab. Saat itu, Abbad melihat bahaya besar yang mengancam Islam. Maka, jiwa pengorbanan dan kepahlawanannya mengambil bentuk sesuai dengan tugas yang dibebankan oleh keimanannya. Hal itu meningkat ke tahap yang seiring dengan kesedarannya akan bahaya tersebut hingga menjadikannya sebagai parajurit yang berani mati, yang tak menginginkan yang lain kecuali syahid di jalan Allah.

Sehari sebelum Perang Yamamah itu berlaku, Abbad mengalami suatu mimpi yang kemudiannya diketahui tafsirannya bahawa akan terjadi di arena pertempuran sengit yang melibatkan kaum muslimin. Marilah kita panggil seorang sahabat mulia, Abu Sa’id al-Khudri, untuk menceritakan mimpi yang dilihat oleh Abbad, ta’birnya, serta peranannnya yang mengagumkan dalam pertempuran yang berakhir dengan syahid.

Abu Sa’id bercerita, “Abbad bin Bisyir berkata kepadaku, ‘Hai Abu Sa’id, aku semalam bermimpi melihat langit terbuka untukku kemudian tertutup lagi. Aku yakin bahawa ta’birnya, insya Allah, aku akan menemui syahid.” “Demi Allah.” ujarku, “itu adalah mimpi yang baik.” “Di waktu Perang Yamamah itu kulihat ia berseru kepada orang-orang Anshar, ‘Pecahkan sarung-sarung pedang kalian dan tunjukkan kelebihan kalian.’ Maka, mereka menyerbu dengan tangkas bersama sejumlah empat ratus orang dari golongan Anshar hingga mereka sampai ke pintu gerbang , lalu bertempur dengan gagah berani.

Ketika itu, Abbad semoga Allah memberinya rahmat menemui syahid. Wajahnya kulihat penuh dengan bekas tusukan pedang dan aku mengenalinya hanya dengan melihat tanda yang terdapat pada jarinya. Demikianlah Abbad naik ke taraf yang sesuai untuk memenuhi kewajipannya sebagal seorang mukmin dan golongan Anshar yang telah berbaiat kepada Rasul untuk menyumbangkan hidupnya bagi Allah dan menemui syahid di jalanNya.

Pada awalnya ia melihat medan pertempuran sengit itu lebih berpihak pada kemenangan musuh, teringat ucapan Rasulullah terhadap kaumnya, golongan Ansar, “Kalian adalah inti. Oleh itu, tidak mungkin aku dicederakan oleh kalian.” Ucapan itu memenuhi rongga dada dan hatinya, sehingga, seolah- olah, saat itu Rasulullah masih berdiri mengulang-ulang kata-katanya itu. Abbad merasa bahwa seluruh tanggung jawab peperangan itu terpikul hanya di atas bahu golongan Ansar atau di atas bahu mereka yang sebelum golongan lainnya.

Ketika itu, beliau naik ke atas sebuah bukit lalu berseru, “Wahai golongan Ansar! Pecahkan sarung-sarung pedang dan tunjukkan keistimewaan dari golongan lain.” Ketika seruannya dipenuhi oleh empat ratus orang pejuang, Abbad bersama Abu Dujanah dan Barra’ bin Malik mengerahkan mereka ke taman maut, suatu taman yang digunakan oleh Musailamah sebagai benteng pertahanan. Pahlawan besar itu pun berjuang sebagai seorang lelaki, sebagai seorang mukmin, dan sebagai seorang warga Ansar.

Pada hari yang mulia itu, Abbad menemui syahidnya. Tidak salah mimpi yang dilihat dalam tidurnya semalam. Bukankah beliau melihat langit terbuka, kemudian setelah beliau masuk ke celahnya yang terbuka itu, tiba-tiba langit bertaut dan tertutup kembali. Mimpi itu ditakwilkannya bahawa pada pertempuran yang akan terjadi ruhnya akan naik ke Tuhan dan Penciptanya. Sungguh benar mimpi itu dan benar pula ta’birya. Pintu-pintu langit telah terbuka untuk menyambut ruh Abbad bin Bisyir dengan gembira, yakni seorang tokoh yang oleh diberi cahaya oleh Allah.

 

Wallahu’alam.

Kredit: Akh Khalid

<Ilaahi…Anta MaqSuudi, wa ridhoka maTluubi>

بارك الله فيكم وجزاكم الله خير الجزاء

Comments
  1. sahar says:

    Assalamualaikum
    Demi Allah, kalau tidak kerana akan mensia-siakan pos kawalan yang ditugaskan Rasul kepada kita, sungguh, aku lebih suka mati daripada meneruskan bacaan ayat-ayat yang sedang kubaca itu.

    itu maksudnya gmna, tolong jelasin maaf ya aku belum mengerti

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s