Menunda Nikah Demi Menuntut Ilmu

Posted: March 2, 2010 in artikel.pilihan.ku, ~keluarga sakinah~
Tags:

Pernikahan yang diserukan oleh Islam merupakan fitrah dan sunah para Nabi dan Rasul (manusia pilihan yang sempurna). Meneladani mereka merupakan hal yang sangat dituntut. Pernikahan yang barakah Insya Allah banyak melahirkan timbulnya sunnah hasanah (kebiasaan baru yang baik). Bahkan Rasulullah pernah menjanjikan kebaikan dengan berkata;

“Kawinilah orang-orang yang masih sendirian diantara kamu, sehingga Allah akan memperbaiki akhlak mereka, meluangkan rezeki mereka dan menambah keluhuran mereka.”

Dalam hadis dengan derajat shahih Rasulullah SAW bersabda;

“Tiga golongan orang yang pasti mendapat pertolongan Allah, yaitu mukatab yang bermaksud untuk melunasi perjanjiannya, orang yang menikah dengan maksud memelihara kehormatannya dan yang berjihad di jalan Allah.” (HR Turmudzi, An Nasa’i, Al Hakim dan Daruquthni).

Bahkan Rasulullah pernah memberi peringatan bagi orang-orang yang urung menikah dengan berkata;

“Bukan termasuk golonganku orang yang merasa khawatir akan terkungkung hidupnya karena menikah kemudian ia tidak menikah.” (HR Thabrani).

Demikian tingginya kedudukan pernikahan dalam Islam sehingga menikah merupakan jalan menyempurnakan separuh agama. Rasulullah SAW bersabda:

“Apabila seorang hamba telah berkeluarga berarti ia telah menyempurnakan separuh agamanya . Maka takutlah kepada Allah terhadap separuh yang lainnya.” (HR Ath-Thabrani).

Bagaimana jika timbulnya keinginan menunda pernikahan karena suatu sebab yang lainnya, misalnya menuntut ilmu (Agama Islam)? Baiklah, sebelum kita dapati jawaban atas pertanyaan diatas, kita lihat dalam beberapa ayat Alquran berikut tentang keutamaan menuntut ilmu.

“Allah mengangkat orang-orang yang beriman dari kalian dan orang-orang yang diberi ilmu dengan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui segala apa yang kalian lakukan.” (QS 58:11)

“Katakanlah: Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS. 39:9)

“Kami tiada mengutus Rasul-rasul sebelum kamu (Muhammad) melainkan beberapa orang laki-laki yang kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tidak mengetahui.” (QS. 21:7)

Bahkan seruan menuntut ilmu dikatakan oleh Rasulullah pada hadis shahih berikut, Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa menempuh suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu (agama) maka akan Allah mudahkan baginya jalan menuju surga. Dan sesungguhnya para malaikat senantiasa meletakkan sayapnya bagi orang-orang yang menuntu ilmu (thalibul ilmi). Para penghuni langit dan bumi sampai ikan-ikan di dalam air pun akan memintakan ampun kepada Allah bagi orang-orang alim dibandingkan ‘abid (ahli ibadah) bagaikan keutamaan bulan purnama atas semua bintang. Sesungguhnya para ulama itu pewaris nabi. Dan para nabi tidaklah mewariskan dinar maupun dirham tapi hanyalah mewariskan ilmu. Maka barangsiapa mengambil warisan itu berarti dia telah mendapatkan keuntungan besar.” (HR Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban).

Dalam ayat berikut ini didapati adanya beberapa amalan besar yang boleh ditunda pelaksanaannya demi menuntut ilmu agama. Allah SWT berfirman:

“Tidak sepantasnya bagi orang-orang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberikan peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS. 9:122).

Ada sebuah riwayat dari Imam Ibnul Jauzi rahimullah menyatakan:

“Dan sungguh salafus shalih lebih mengutamakan ilmu atas segala sesuatu. Maka antara lain diriwayatkan bahwa Imam Ahmad tidak menikah kecuali setelah berusia lebih dari 40 tahun.”

Dalam riwayat lain diceritakan bahwa Abu Bakar bin Al Anbari diberikan hadiah seorang budak wanita, maka ketika beliau masuk menemui budak tersebut untuk berjima’ dengannya, beliau berfikir untuk memecahkan suatu masalah ilmiah dalam bidang agama. Budak itu kemudian menyendiri dari beliau. Dan beliau berkata: “Keluarkanlah budak ini dan bawalah pada pedagang budak”. Mendengar ucapan beliau budak wanita tersebut bertanya: “Apakah aku mempunyai kesalahan?” Beliau menjawab:”Tidak, tetapi hatiku disibukkan denganmu, apapula nilaimu sehingga bisa menghalangi aku dari ilmuku”.

Dalam kitab Jami’ul Bayanil Ilmi wa Fadhlihi oleh Ibnu Abdil Barrahimahullah menjelaskan bahwa ada dua hukum dalam menuntut ilmu, yaitu:

Fardhu ‘ain yaitu yang harus kita fahami segala kewajiban dalam agama dan cara pengamalannya. Contohnya: perkara tauhid, sholat lima waktu, dan larangan berzina, mabuk dan lain-lain.

Fardhu kifayah yaitu bila kita menuntut ilmu agama tentang dalil-dalil keterangan agama dan penelitian tentang riwayat-riwayat dalil tersebut.

Kewajiban menuntut ilmu yang diserukan oleh Rasulullah SAW tidak memandang umur dan jenis kelamin. Rasulullah bersabda:

“Menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap muslim”. (HR Ahmad, Ahsan).

Berdasarkan realita yang ada, banyak terjadi dikalangan muda-mudi Islam yang menemui hambatan dalam menuntu ilmu setelah menikah. Yang laki-laki disebabkan karena direpoti oleh kesibukan dalam mencari nafkah bagi keluarga dan yang perempuan disibukkan oleh tugas-tugasnya sebagi istri dan mengurus anak.

Jika demikian menunda menikah demi menuntut ilmu adalah mulia atau paling tidak menuntut ilmu agama untuk bekal kehidupan berumah tangga dan dalam mendidik anak. Tapi hal tersebut tidak dianjurkan bagi mereka yang memastikan bahwa dirinya tidak akan menemui masalah dan terganggu dalam menuntut ilmu apabila dirinya telah menikah. Bahkan bagi dirinya sangat dianjurkan untuk segera menikah demi menghindari kemaksiatan.

Nah sekarang, pertanyaan diatas telah terjawab, bahwa tidak mengapa jika seseorang mengambil keputusan untuk menunda menikah karena alasan yang jelas yaitu ingin menuntut ilmu. Dengan berilmu manusia dapat menjaga dirinya dari segala permasalahan yang dihadapinya (termasuk didalamnya problema kehidupan berumah tangga) seperti yang telah tercantum pada QS. 9:122 agar selamat dunia dan akhirat.

Semoga dengan demikian langkah kita semakin mantap dalam menentukan sikap untuk memilih keutamaan yang lebih utama dari keutamaan yang lainnya.

Selamat memilih! Wallahu a’lam bishshowaab

Sekian.

Sumber/Endnotes: Eramuslim, Hussain@KSI

<Ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan dengannya, manusia diberi peringatan. (TMQ Ibrahim [14]: 52)>

بارك الله فيكم وجزاكم الله خير الجزاء

Comments
  1. hufaizah says:

    salaam.

    syukran jazilan for the post. somehow ive gotten the answer here.
    Allah yajzikal kheir.

    wassalam. (:

  2. Arie Triono says:

    Aku seorang muslim laki2 dan aku masih merasa heran dengan tulisan yang ini :

    “Dalam riwayat lain diceritakan bahwa Abu Bakar bin Al Anbari diberikan hadiah seorang budak wanita, maka ketika beliau masuk menemui budak tersebut untuk berjima’ dengannya, beliau berfikir untuk memecahkan suatu masalah ilmiah dalam bidang agama. Budak itu kemudian menyendiri dari beliau. Dan beliau berkata: “Keluarkanlah budak ini dan bawalah pada pedagang budak”. Mendengar ucapan beliau budak wanita tersebut bertanya: “Apakah aku mempunyai kesalahan?” Beliau menjawab:”Tidak, tetapi hatiku disibukkan denganmu, apapula nilaimu sehingga bisa menghalangi aku dari ilmuku”.”

    mohon penjelasannya lebih detail lagi, karena
    Kasian sekali dengan budak wanita itu.. aku tidak tega..

    klo dlu orang menuntut ilmu masih bisa berjima’ dengan budak, klo sekarang ada solusi gak?

    • Yang perlu difahami pertama-tamanya, budak@hamba sahaya di era pemerintahan Islam adalah berbeza sama sekali dengan status budak/hamba di zaman sekarang.

      Budak tersebut cuma kekhuatiran dirinya melakukan kesalahan pada tuannya (apa lagi mendapat tuan yg baik), takut jika kesalahan yg dilakukan adalah punca kepada tuannya menjual dirinya, tidak mahukan dirinya lagi.
      Adapun riwayat ini bukanlah semata2 berkenaan isu menggauli budak.
      Tetapi cuba menjelaskan betapa Abu Bakar al-Anbari memandang tinggi ilmu, sehingga beliau tidak mahu disibukkan dgn urusan dunia, nikmat dunia yg sementara. Tindakan beliau sama sekali tidak salah, kerana tuan tetap boleh membebaskan atau menjualkan hambanya jika dia mahu.
      Pengajaran lainnya, sama lah bila mana manusia terlalu dilekakan dengan nikmat dunia yg sementara (sebagai contoh: lelaki-perempuan cantik, harta mewah, anak-anak, perkerjaan dna sebagainya.), maka manusia cenderung untuk lalai dalam tanggungjawabnya terhadap agamaNya…apa lagi al-Khaliq…

      Maka, penting bagi manusia itu untuk menseimbangkan urusan dunia dan akhiratnya, tahu yang mana aulawiyat nya, agar mereka tidak terlalu diberatkan dengan urusan dunia semata-mata sehingga melupakan akhirat, dan dalam masa yg sama tidka melupakan tanggungjawabnya yg ada di dunia…

      Adapun Islam itu menyeluruh…setiap aspek kehidupan manusia, setiap urusannya, adalah menyumbang untuk negeri akhiratnya. MasyaAllah… demikianlah Maha Bijaksana nya Allah mengatur kehidupan manusia…

      Solusinya? saya agak keliru dgn persoalan di sini.
      Tetapi, saya yakin kerana terdapat salah pandang berkenaan beberapa hukum berkenaan 1) budak/hamba 2) menikah.

      Kenapa enta tidak menikah saja dengan mana-mana muslimah? Berpasangan itukan fitrah Ini lah solusi yg baik. Itukan lebih baik untuk melestarikan keturunan disamping memenuhi gharizah yg fitrahnya manusia. Pasangan juga bisa menjadi penolong yg baik, insyaAllah, bersama-sama menggali ilmu…

      Dan yang paling penting, menuntut ilmu tidak boleh sama sekali dijadikan alasan semata-mata untuk menghindar dari fitrah keperluan gharizah an-nau’ nya manusia.

      Jika manusia boleh menjaga kehormatan dirinya, maka tak apa2 dia menunda nikahnya demi menuntut ilmu. Namun, jika dia tidak mampu menahan kehendak nalurinya (gharizah), berkahwinlah, walaupun pada saat itu dia masih dalam tempoh belajar.

      Anjuran pemuda menikah segera juga kan ada.

      Dan perlu diingati bahawa hukum asal perkahwinan itu sunnah. Namun, menjadi wajib bila mana dia tidak mampu lagi mengawal nalurinya. Jika, menikah juga ia tidak mampu, maka, berpuasalah. demikian anjuran Rasulullah.

      Hukum harus/mubah pula bagi yg mampu menikah tapi mampu mengawal nalurinya dan belum mahu menikah…. tidak kira lah apa pun sebabnya dia tak mahu menikah pada saat itu. boleh jadi fokusnya pada saat itu menuntut ilmu dan sebagainya. Maka, tak apa-apa.

      Namun, dia sama sekali tidak boleh tidak mahu menikah kerana tabattul.

      Semuanya sudah dicontohkan oleh RAsulullah dan para sahabatnya. Yang tinggal, bagaimana kita memahami sesuatu isu itu.

      Sekian dahulu.

      Wallahu`alam bissawab

    • menuju jalan lurus says:

      “Dalam riwayat lain diceritakan bahwa Abu Bakar bin Al Anbari diberikan hadiah seorang budak wanita, maka ketika beliau masuk menemui budak tersebut untuk berjima’ dengannya, beliau berfikir untuk memecahkan suatu masalah ilmiah dalam bidang agama. Budak itu kemudian menyendiri dari beliau. Dan beliau berkata: “Keluarkanlah budak ini dan bawalah pada pedagang budak”. Mendengar ucapan beliau budak wanita tersebut bertanya: “Apakah aku mempunyai kesalahan?” Beliau menjawab:”Tidak, tetapi hatiku disibukkan denganmu, apapula nilaimu sehingga bisa menghalangi aku dari ilmuku”.”

      Riwayat riwayat seperti ini tidak jelas sumber dan asal muasal nya, seperti kisah sahibul hikayat….
      Jangan lah kamu mudah diperdaya

      • terima kasih banyak2 saudara al faqir.

        saya pun asyik tak sempat nak on9 untuk update. walhal penjelasan ttg “riwayat” itu sangat penting. mohon maaf atas kecuaian.

        penerangan saya juga sekadar berdasarkan gist pemahaman dari suatu kisah ke suatu kisah berdasarkan sudut pandang pemahaman yg sebenar. kerana saya bukan mau untuk membenarkan mana2 kisah, jauh sekali membenarkan kisah2 Israeliat dan sebagainya.
        w/bagaimanapun, perlu juga diingati mana2 kisah sekalipun, hatta kisah sang kancil dengan buaya, yg membezakan seseorang itu dgn yg lain adalah sudut pandangnya terhadap kisah itu. apakah yg menjadi dasar pemikirannya. dasar Islam atau apa? bisa jadi kejahilan atau nafsu.

        contoh mudah, bila mana seseorang melihat kisah cinta Islami di TV, siri2 drama, filem yg sering dimomokkan sebagai “cinta Islami” yg patut di contohi – semua itu insyaAllah dan pasti tidak akan dapat menipu hamba Allah yg dikurniakan pengetahuan olehNya dan benar2 mau beramal.

        yang pasti, para pembaca sekalian, kita perlu jelas yg mana dalil, sirah yg benar dan yg mana sekadar cerita2. Dan untuk apa tujuannya kita melihat kisah itu dan bagaimana cara kita memahaminya.
        Dan saya rasa barangkali sdr Arie mau memahami bagaimana dan apa mungkin maksud disebalik apa yg dikhabarkan itu. Kerana, tidak boleh dinafikan tidak cerita ini sudah banyak kali diwar-warkan. Maka, elok juga diperjelaskan agar tidak disalahertikan.

        Sekali lagi, terima kasih pada sdr al-faqir kerana berkesempatan untuk menjelaskan status kisah yg dipaparkan oleh Arie Triono.

        Jzkk.

        =)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s