Posts Tagged ‘dakwah’

Ketiga : Kesetaraan (al-Musâwâh)

Termasuk perkara yang sudah ma’rûf di dalam sistem demokrasi barat adalah, warga satu negara memiliki hak dan kewajiban yang sama, tanpa ada perbedaan antara orang yang satu dengan lainnya oleh sebab warna kulit, suku ataupun aqidah. Hal inilah yang bertentangan dengan Islam, sebab Islam adalah agama yang adil secara mutlak, tidak menganggap semua manusia itu setara dan sama secara total dan mutlak. Ada banyak hukum-hukum yang bersifat qoth’î (pasti) di dalam Islam yang tidak menyamakan antara muslim dengan non muslim. Alloh Ta’âlâ berfirman :

“Maka apakah patut kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir)”? (QS al-Qolâm : 35)

Ayat ini tidak khusus membicarakan perkara akhirat sebagaimana yang difahami oleh sebagian orang. Namun, sesungguhnya ayat ini –walaupun siyâq (konteks) permbicaraannya mengenai akhirat- namun lafazhnya umum, yaitu Alloh tidak menjadikan kaum muslimin itu seperti kaum mujrimîn (pendosa) baik di dunia maupun di akhirat. Masih banyak hukum-hukum yang menyatakan ketidaksamaan antara kaum muslimin dengan non muslim. Tidakkah Anda mengetahui bahwa seorang muslim pria boleh menikahi wanita ahli kitab sementara pria ahli kitab tidak boleh menikahi wanita muslimah. Di dalam hadits yang shahih dikatakan, “seorang muslim tidak boleh dibunuh oleh sebab seorang kafir” (HR Bukhârî : 111, at-Turmudzî : 1412, an-Nasâ`î VIII:23, dan Ibnu Mâjah : 2658 dari ‘Alî secara marfû’).

Saya akan berikan satu contoh di sini yang berkaitan dengan masalah yang sedang kita diskusikan. Yaitu, di dalam sistem demokrasi, setiap warga negara berhak untuk mencalonkan diri menjadi presiden selama memenuhi beberapa persyaratan, dimana agama tidak termasuk persyaratan tersebut. Di Mesir, Undang-Undang pasal 30 menyatakan, bahwa “persyaratan orang yang mencalonkan diri di dalam pemilu sebagai presiden, haruslah berkewarganegaraan Mesir dan berasal dari kedua orang tua yang juga dari Mesir”. Tidak ada persyaratan dia haruslah seorang yang beragama Islam. Berdasarkan pasal tersebut, bisa jadi seorang Yahudi atau Nasrani terpilih menjadi presiden Mesir, selama kedua orang tuanya adalah berasal dari Mesir. Senegal, pernah dipimpin oleh seorang Nasrani, (Leopold Sedar) Senghor (سنجور), padahal Senegal adalah negeri Islam. Kaum muslimin di Eritria dipimpin oleh seorang Nasrani, Isaias Afewerki ( أفورقي أسياسي). Dan semua hal ini berada di bawah slogan demokrasi.

Adapun di dalam sistem Islam, suatu hal yang sudah kita ketahui bersama dan tidak perlu lagi dijelaskan, bahwa tidak boleh negeri Islam dipimpin oleh non muslim. Dalil-dalil syar’î tentang hal ini begitu jelasnya. Alloh Ta’âlâ berfirman :

“Taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu.” (QS an-Nisâ` : 59)

Yang dimaksud dengan Ulil Amri haruslah dari kalangan kita sendiri, yaitu kaum muslimin. Bahkan sudah merupakan suatu ijmâ’ (kesepakatan) ummat tentang hal ini, dan kami tidak mengira ada seorangpun yang memperdebatkannya. Sayangnya, kami temukan masih ada saja orang yang memperdebatkan masalah ini. Yaitu al-Ustâdz Fahmî Huwaidî dalam artikel dan tulisan lainnya yang dipublikasikan sekitar dua atau tiga tahun yang lalu.

Alasan kami menolak demokrasi pada bentuk asalnya, adalah oleh sebab demokrasi tidak menganggap perbedaan agama dan menyamakan semuanya pada seluruh aspeknya. Terlebih lagi, kita dapati di dalam sistem demokrasi kita yang pincang ini, tanpa pandang bulu memperbolehkan semua orang untuk mendirikan partai kecuali partai Islam. Kita dapati, banyak penulis sekuler dan demokrasi menyokong hal ini, bahkan mereka menyerukan untuk lebih bersikap represif terhadap aktivis muslim.

Wahîd Ra`afat–ketika dia masih menjabat sebagai wakil ketua partai Wafd, dan partai Wafd ini adalah partai tertua yang berideologi demokrasi sekuler di Mesir- pernah berkata : “Sesungguhnya keselamatan umat itu tergantung pada konstitusinya”. Tokoh-tokoh mereka, berdalih dengan ucapan tersebut untuk melegalkan perbuatan mereka di dalam melakukan tindakan represif terhadap gerakan Islam di Mesir, walaupun nash-nash syari’at dan ijmâ’ ulama baik salaf (terdahulu) maupun kholaf (kontemporer) menyelisihi konstitusi atau undang-undang mereka. Mudah-mudahan hal ini bisa menafsirkan apa yang dikatakan oleh pendahulu mereka bahwa demokrasi yang mereka adopsi ini memiliki ‘taring’.

Keempat : Kebebasan (al-Hurriyât)

Ini adalah poin terakhir yang akan kami diskusikan berkenaan dengan hukum demokrasi di dalam Islam. Kami melihat bahwa demokrasi barat membuka kebebasan seluas-luasnya kepada masyarakat, bahkan hampir-hampir tak terkendalikan. Tidak diragukan lagi bahwa Islam adalah agama ‘kebebasan’ dalam maknanya yang shahih, yang meletakkan kontrol secara optimal di dalam pelaksanaan kebebasan tersebut. Inilah hal yang tidak diridhai oleh aktivis pro demokrasi.

Saya berikan satu contoh di sini, yaitu kebebasan dalam berkeyakinan di dalam sistem demokrasi, bahwa seseorang berhak untuk memperoleh kebebasan dalam berkeyakinan, dan berhak untuk merubah aqidahnya dan menanggalkan agamanya kepada agama baru atau kepada atheisme (tidak beragama). Adapun kebebasan berkeyakinan di dalam Islam berbeda bentuknya. Seorang Nasrani contohnya, diperbolehkan untuk menetap di negeri Islam dan ia tetap boleh berpegang dengan agamanya dalam keadaan dilindungi jiwa dan hartanya, dengan syarat ia mau untuk memenuhi kewajiban undang-undang Islami yang menaunginya.

Adapun seorang muslim, tidak boleh dia merubah agamanya kemudian murtad menjadi seorang Nasrani –misalnya- dengan slogan kebebasan berkeyakinan. Barang siapa melakukan hal ini, maka hukumnya telah ma’rûf di dalam syariat, yaitu ia diminta untuk bertaubat atau diberi hukuman mati. Kami dapati ada seorang penyeru sekulerisme di Mesir, menyerukan untuk melakukan tindakan revolusioner (pemberontakan) hanya karena permasalahan ini –yaitu permasalahan riddah (kemurtadan)-. Mereka beranggapan bahwa hal ini merupakan bentuk pengekangan terhadap kebebasan, sampai-sampai salah seorang dari mereka (yaitu ‘Abdus Sattar ath-Thawîlah, penulis haluan kiri di dalam bukunya “Umarâ` wal Irhâb” hal. 34) menganggap permasalahan untuk merubah agama wajib untuk disamaratakan bagi seluruh rakyat dan menolak hak bagi kaum Qibthî (kristen koptik) untuk mengganti keyakinannya sedangkan di sisi lain menolak hak ini bagi muslim. Dia berkata :

“Saya telah bertanya kepada al-‘Âlim al-Jalîl (seorang yang alim lagi mulia), DR. Farhûd, mantan Rektor Universitas al-Azhar: Wahai Syaikh, mengapa Anda menuntut untuk mengeksekusi kaum muslimin yang merubah agamanya dengan alasan apapun? Beliau menjawab : Karena jika seseorang telah memilih Islam sebagai agamanya, maka dia layak untuk diberikan sanksi apabila ia meninggalkannya. Saya berkata : barangsiapa mengatakan bahwa 90% kaum muslimin telah memilih untuk menjadi muslim, maka kami tidak menjadi kafir sampai kami masuk ke dalam Islam. Ketika kami dilahirkan, telah kami dapati bahwa diri kami ini telah menjadi muslim dengan akta kelahiran orang tua kami, demikian pula dengan orang kristen dan yahudi. Apabila Anda beranggapan bahwa saya berhak untuk menjadi seorang muslim, lantas kenapa Anda tidak memperbolehkan seorang manusia untuk memilih selain Islam? (Ibid, hal. 34-35).

Kebatilan yang diucapkan oleh penulis ini dan orang semisalnya, disebabkan karena ia sudah sering meneguk pemahaman yang kacau balau. Dia tidak memahami agama kecuali hanya sekedar hubungan antara seorang hamba dengan tuhannya, sehingga seseorang berhak memilih gambaran tuhannya semaunya. Kemudian ia memahami kebebasan secara mutlak, setidak-tidaknya di dalam masalah keyakinan. Ia membangun di atas asumsi kebebasan mutlak ini, bahwa setiap orang berhak untuk merubah pilihannya kapan saja dia mau dan tidaklah boleh seorangpun mengekang hak pilihnya ini. Apalagi pemahaman mereka tentang kesetaraan (al-Musâwah) diantara agama-agama dan keyakinan, yang menganggap tidak ada bedanya antara agama yang haq dengan agama-agama bathil yang tidak diridhai oleh Alloh Azza wa Jalla. Ini hanyalah satu contoh saja tentang perbedaan antara Islam dan demokrasi di dalam memandang kebebasan. Contoh selain ini masih banyak lagi.

Inilah diskusi singkat kami tentang alasan kami menolak demokrasi dengan penjelasan hakikat dan keadaannya yang kami ketahui. Perlu kami utarakan di sini, bahwa keempat hal di atas yang kami tolak dari sistem demokrasi, tidaklah otomatis pada tingkatan yang sama dan harus ada pada bentuk-bentuk demokrasi lainnya. Perlu juga kami jelaskan di sini, bahwa ketika kami menolak sistem demokrasi ini, bukanlah ini artinya kami menerima sistem diktatorisme, dan tidak pula sistem sosialisme komunisme. Kami tegaskan : kami tidak mau sistem ini dan itu, yang kami kehendaki hanyalah asy-Syûrâ al-Islâmiyah, yaitu sistem Islâm. Dan demokrasi itu tidaklah sama dengan syûrâ Islam.

SEKIAN.

WALLAHU’ALAM.

PREV. ARTICLES

Advertisements
Jika mereka berpaling maka katakanlah, “Aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum `Aad dan kaum Tsamud. (TMQ Fushilat [41]: 13)

Kemudian Utbah menahan mulut Rasulullah SAW dan memohon belas kasihan Rasul SAW agar berhenti daripada membacakan al-Quran. Sejak peristiwa itu, Utbah tidak  lagi menemui keluarganya dan menahan diri dari mereka. Abu Jahal berkata, “Wahai kaum Quraisy, demi Allah, kami tidak melihat Utbah kecuali telah keluar daripada agama kita untuk memeluk agama Muhammad. Dia tertarik dengan kata-kata Muhammad. Semua itu tidak akan terjadi tanpa ada sesuatu yang menimpanya. Marilah kita berangkat bersama-sama menemuinya.” Lalu mereka berangkat menemui Utbah. Abu Jahal berkata, “Wahai Utbah, demi Allah, kami tidak takut kecuali jika engkau memihak kepada Muhammad, dan engkau tertarik dengan urusan Muhammad. Jika engkau menginginkan sesuatu yang berharga, maka kami akan mengumpulkan harta kami untukmu yang dapat memuaskan dirimu berbanding apa yang diberikan oleh Muhammad.”

Mendengar hal itu Utbah marah dan bersumpah dengan nama Allah bahawa dia tidak akan berbicara dengan Muhammad untuk selama-lamanya.” Utbah berkata, “Kalian telah mengetahui bahawa aku adalah orang Quraisy yang paling banyak hartanya. Tetapi sungguh, aku telah datang kepada Muhammad.” Kemudian Utbah menceritakan kisahnya kepada mereka dengan berkata, “Kemudian Muhammad menjawabku dengan sesuatu perkataan. Demi Allah, itu bukan sihir, syair, dan perdukunan; dia (Muhammad) membacakan: Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Haa Miim.

Diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui. (TMQ. Fushilat [41]: 1-3); sehingga ayat yang ketiga belas: Jika mereka berpaling maka katakanlah, “Aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum `Ad dan kaum Tsamud. (TMQ. Fushilat [41]: 13)

Kemudian aku menahan mulutnya dan memohon kasih sayangnya agar berhenti membacakan al-Quran. Sungguh, kalian telah mengetahui bahawa jika Muhammad mengatakan sesuatu, maka dia tidak akan berdusta. Aku sangat khuatir akan turun seksa kepada kalian.” (Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Muin yang berbeda dengan Riwayat Ibnu Ishak dari Muhammad bin Ka’ab al-Qurdzi, yang dalam riwayat itu terdapat Rawi yang majhul, dan diceritakan dalam Sirah Ibnu Hisyam)

Mencaci-maki

Imam Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan dari Abdurrahman bin Auf ia berkata; ketika kami bediri di barisan perang Badar, aku melihat ke kanan dan kiriku, tiba-tiba aku melihat dua orang anak muda dari kaum Anshar. Aku berharap agar aku berada di samping keduanya. Kemudian salah seorang dari keduanya memegangku dan berkata, “Wahai pakcik, adakah engkau mengenal Abu jahal?” Aku berkata, “Ya, Apa yang engkau mahukan daripadanya wahai anakku?” Dia berkata, “Aku mendapat khabar bahawa dia telah mencaci maki Rasulullah SAW.

Demi Allah yang menggenggam jiwaku, apabila aku melihatnya maka tidak akan berpisah pakaianku dan pakaiannya sehingga matilah yang paling cepat di antara kami.” Maka aku sangat kagum terhadap anak itu. Kemudian anak yang kedua pun memegangku dan berkata seperti anak yang pertama. Imam Bukhari dan Muslim juga telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. tentang firman Allah: Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam solatmu dan janganlah pula merendahkannya (TMQ. al-Isra’ [17]: 110) Ibnu Abbas berkata ayat ini diturunkan ketika Rasulullah SAW sedang berdakwah secara sembunyi-sembunyi (sirriyah) di Makkah. Rasulullah SAW. Ketika solat bersama para sahabat, suka mengeraskan suaranya ketika membaca al-Quran. Jika orang-orang musyrik mendengarnya, maka mereka akan mencaci maki al-Quran, Dzat yang menurunkannya serta orang yang membawanya. Allah berfirman kepada RasulNya:

Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya. (TMQ. al-Isra’ [17]: 110)

Maksudnya, jangan mengeraskan bacaan sehingga didengar oleh orang-orang musyrik, yang mengakibatkan mereka akan mencaci maki al-Quran. Maksud dari firman Allah “wala tukhafit biha” adalah jangan menyembunyikan bacaan solatmu dari sahabatmu, sehingga mereka tidak dapat mendengar, Tapi carilah yang pertengahan di antara hal itu.

Imam Ahmad telah meriwayatkan dalam al-Musnad, para perawinya terpercaya, dari Abu Hurairah dari Nabi SAW, beliau bersabda:

Apakah kalian tidak melihat bagaimana Allah memalingkan dariku kutukan kaum Quraisy, dan caci maki mereka. Mereka mencaci makiku sambil mencela, padahal aku adalah Muhammad. Dalam hadits Mutafaq ‘alaih, Ibnu Abbas berkata, ketika turun firman Allah: Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat, (TMQ. Asy-Syu’ara [26]: 214) Rasulullah SAW. keluar sehingga naik ke bukit Shafa, kemudian beteriak, “Hai selamat pagi!” Kaum Quraisy berkata, “Siapa yang berteriak itu?.” Mereka berkata, “Ia adalah Muhammad.” Kemudian mereka berkumpul menujunya.

Beliau bersabda: Bagaimana pendapat kalian jika aku kabarkan bahawa saat ini ada pasukan kuda yang keluar dari belakang bukit ini, apakah kalian akan mempercayaiku? Mereka berkata, “Kami tidak pernah melihat engkau berdusta.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan bagi kalian, bahawa di hadapanku ada seksa yang sangat keras.” Abu Lahab berkata, “Celaka engkau Muhammad, adakah hanya untuk ini engkau mengumpulkan kami?” Kemudian turunlah firman Allah, surat al-Lahab [111]: 1, “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa.” Ath-Thabrani telah mengeluarkan dari Manbats al-Azdi, ia berkata; Aku melihat Rasulullah SAW. di masa jahiliyah, ia bersabda, “Wahai manusia, katakan “Tiada tuhan selain Allah”, pasti kalian berbahagia”.

Setelah itu kaum Quraisy ada yang meludahi wajah Rasul SAW. Dan ada pula yang menaburkan tanah ke wajahnya, dan ada yang mencaci maki sehingga ke tengah hari. Kemudian ada seorang anak wanita yang datang kepada Rasulullah SAW. membawa wadah yang cukup besar yang dipenuhi air, lalu beliau membasuh wajah dan kedua tangannya. Rasulullah SAW. bersabda, “Engkau jangan risau akan ayahmu terbunuh atau dihina”. Manbat al-Azdi berkata, “Siapa anak kecil itu?” Orang-orang berkata, “Ia adalah Zainab anak Rasulullah SAW.” Al-Haitsami berkata, “Dalam hadis ini terdapat Manbats bin Mudrik, aku tidak mengenalnya, tapi perawi yang lainnya terpercaya.”

SUMBER: myk

Para pengembang dakwah ada kalanya berada di dalam wilayah Darul Kufur (Negara Kufur), sekali gus mampu untuk melakukan aktiviti taghyir (perubahan yang mendasar), untuk merubah Darul Kufur tersebut menjadi Darul Islam (Daulah Islamiyah). Seperti keadaan seperti sekarang ini, iaitu pada abad ke 15 H, di mana Daulah Islamiyah telah dihancurkan sejak 89 tahun yang lalu. Sejak saat itu, individu yang menerapkan peraturan di muka bumi adalah para pemerintah yang jahat, sehingga menyebabkan Islam lenyap dari kehidupan kaum Muslimin.

Pengembang dakwah ada kalanya pula berada di dalam Darul Islam (Daulah Islamiyah). Mereka aktif melakukan muhasabah (melakukan teguran dan nasihat) dan amar makruf nahi mungkar. Fokus yang menjadi perbahasan pada saat ini adalah situasi yang pertama, iaitu ketika pengembang dakwah berada di negara kufur (Darul Kufur). Ini kerana, pada saat ini kaum Muslim umumnya dan pengembang dakwah khususnya, sedang hidup di dalam negara kufur. Para pengembang dakwah yang akan melakukan perubahan secara mendasar pada saat ini, keadaannya sama seperti dengan keadaan kaum Muslim ketika berada di Makkah. Bahkan lebih dari itu, kaum Muslim pada saat ini juga harus terikat dengan hukum-hukum yang telah diturunkan setelah hijrah. Namun, pembahasan pada bab ini akan kami fokuskan pada keadaan yang terjadi sebelum hijrah, kerana ada kesamaan antara dua keadaan tersebut. Kaum Kafir di Makkah telah memaksa kaum Muslim agar mengingkari ajaran yang dibawa oleh Rasulullah SAW dan keluar dari Islam menuju kekufuran. Mereka turut menuntut agar kaum Muslim pada masa itu meninggalkan aktiviti mengembang dakwah Islam, dan supaya mereka tidak menampakkan ibadahnya di khalayak ramai.

Tindakan seperti ini dilakukan pula oleh para pemerintah zalim saat ini. Bahkan lebih dari itu, para pemerintah tersebut juga meminta para pengembang dakwah untuk bekerjasama dengan mereka, sama ada menjadi pengintip atau menjadi agen pemikiran (amilan fikriyan) yang mempropagandakan berbagai pemikiran untuk memenuhi kepentingan pemerintah yang zalim. Kewujudan pemerintah semacam ini dan dominasi kaum kafir telah berlangsung terlalu lama di negeri-negeri kaum Muslimin. Akibatnya, lahirlah “pasukan” pengintip dan tali barut di dalam bidang pemikiran, serta para mufti (yang sedia berfatwa) sesuai dengan permintaan (pemerintah zalim). Kami tidak tahu, apakah tuntutan busuk seperti ini, pernah digunakan oleh kaum Quraisy atau tidak pada waktu dahulu? Untuk merealisasikan tuntutan-tuntutan tersebut, kaum kafir Makkah telah menggunakan berbagai cara (uslub), seperti pembunuhan, penyeksaan, penindasan, penahanan, mengikat, menghalangi hijrah, mengambil harta, perang ekonomi, pemboikotan, dan membuat stigma negatif dengan mempropagandakan tuduhan-tuduhan dusta. Para pemerintah zalim (saat ini) juga telah menggunakan taktik seperti itu, bahkan lebih jahat dari itu. Mereka menggunakan berbagai bentuk seksaan dan penemuan baru, seperti menggunakan kejutan elektrik. Meskipun alat itu sepatutnya digunakan dalam sektor industri. Sementara Rasulullah SAW dan para sahabat mempunyai sikap yang wajib diteladani dan diikuti. Penjelasan umum ini memerlukan perincian, baik tentang tuntutan, uslub, mahupun sikap yang harus diambil ketika menghadapinya. Beberapa uslub yang pernah digunakan oleh kafir Makkah adalah:

Penyeksaan (Pemukulan)

Al-Hakim dalam al-Mustadrak telah mengeluarkan sebuah hadis, ia berkata, “Hadis ini shahih isnadnya memenuhi syarat Muslim, dan Imam Muslim pun menyetujui hadis ini dalam al- Talkhish.” Dari Anas ra ia berkata:

“Kafir Quraisy telah memukul Rasullullah SAW sehingga baginda pengsan. Kemudian Abu Bakar ra. berdiri dan berteriak, “Binasa kalian! Apakah kalian akan membunuh orang yang mengatakan, ‘Tuhanku adalah Allah?’ Mereka berkata, “Siapa orang ini?.” Mereka berkata lagi, “Orang ini adalah anak Abi Kuhafah yang gila.”

Muslim telah mengeluarkan dari Abu Dzar tentang kisah keislamannya, ia berkata:

“Aku telah tiba di Makkah. Aku melihat seorang lelaki yang paling lemah di antara mereka. Aku bertanya, “Mana yang kalian sebut dengan nama ash-Shabi’?”. Dia pun memberi isyarat padaku, seraya berkata: ash-Shabi’. Maka, penduduk lembah itu pun mengarah kepadaku (dengan berlumuran lumpur kering dan (membawa) tulang) sehingga aku pun terpelanting jatuh (tak sedarkan diri). Abu Dzar berkata, “Ketika aku bangkit, sungguh aku seperti berhala yang berlumuran darah.”

Mengikat

Al-Bukhari meriwayatkan dari Sa’id bin Zaid bin Amr bin Nufail dari Masjid Kufah, ia berkata:

“Demi Allah, aku melihat diriku sendiri, ketika Umar telah mengikatku kerana keIslamanku, sebelum dia masuk Islam. Seandainya gunung Uhud hilang dari tempatnya, disebabkan oleh apa yang kalian lakukan terhadap Utsman, pasti dia pun akan tetap konsisten seperti itu. Dalam riwayat al-Hakim dikatakan, “Ia mengikatku dan ibuku.” Ia berkata, “Hadis ini shahih memenuhi syarat Muslim.”

Tekanan dari Ibu

Ibnu Hibban meriwayatkan dalam kitab Shahih-nya dari Mus’ab bin Sa’ad dari ayahnya, berkata, Berkata Ummu Sa’ad, “Bukankah Allah telah memerintahkanmu untuk berbuat baik kepada orang tua? Demi Allah, aku tidak akan makan dan tidak akan minum hingga aku mati atau engkau kufur (dari agama Muhammad).” Sa’ad berkata, “Jika mereka hendak memberi makan kepadanya, maka mereka membuka mulutnya dengan paksa.” Kemudian turunlah ayat:

“Dan Aku telah memerintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuannya.” [TMQ. al-Ankabut (29): 8]

Dijemur di Bawah Terik Matahari

Dari Abdullah, ia berkata, “Sesungguhnya yang pertama kali menampakkan keIslamannya ada tujuh orang, iaitu Rasulullah SAW, maka Allah memberikan perlindungan kepada baginda melalui pakciknya, Abu Thalib. Kemudian Abu Bakar, maka Allah melindunginya dengan kaumnya. Sedangkan yang lainnya, mereka diseksa oleh kaum Musyrik. Mereka dipaksa memakai baju besi, kemudian dijemur di bawah terik matahari. Maka tidak ada seorang pun kecuali melakukan apa yang diinginkan oleh kafir Quraisy, kecuali Bilal. Kerana ia telah mampu menundukkan perasaannya kerana Allah semata. Hingga ia menganggap ringan terhadap seksaan dari tuannya. Akibatnya mereka semakin marah dan menyuruh orang-orang Quraisy untuk mengarak Bilal di lembah-lembah Makkah. Ketika itu Bilal mengatakan, ‘Ahad-Ahad’ (HR. al-Hakim dalam al- Mustadrak. Ia berkata, “Hadis ini shahih isnadnya, meski tidak dikeluarkan oleh al-Bukhari Muslim.” Dalam at- Tarikh, adz-Dzahabi menyetujuinya).

Juga diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya. Ia menyebutkan ketujuh orang tersebut. Ia berkata, “Tidak seorang pun kecuali menuruti keinginan kafir Quraisy”, Maksudnya berjanji kepada mereka, tapi dalam riwayat ini terdapat tashif. Asalnya “wa atahum” bermaksud “thawa’ahum” ertinya ia mengikuti keinginan kafir Quraisy, bukan berjanji, kerana mereka tidak akan redha dengan sekadar janji.

SUMBER: mykhilafah.com

<Sabda Rasulullah s.a.w, “Sesiapa yang mempelajari sesuatu ilmu yang dicari keredhaan Allah Azza wa Jalla dengannya, tetapi dia tidak mempelarinya kecuali untuk mendapatkan habuan dunia, maka dia tidak akan mendapat bau syurga pada hari kiamat. (Riwayat Abu Daud dan Ibn Majah. Al-Nawawi mensahihkannya dalam Riyadh al-Salihin).>