Posts Tagged ‘repentance’

Seorang pemuda yg meminta izin kpd Nabi saw utk membenarkan dia berzina,

Dalam riwayat Imam Ahmad yang bersumber dari Abu Umamah diceritakan bahwa seorang anak muda menghadap Rasulullah SAW dan berkata, “Izinkan saya berzina”.

Orang-orang pun ramai mencaci-makinya. Nabi berkata, “Mendekatlah”. Pemuda itu mendekat, lalu terjadilah dialog:


Nabi : “Sukakah engkau jika ibumu berzina?”
Pemuda: “Tidak, demi Allah yang menjadikan diriku tebusanmu”
Nabi : “Orang lain juga tidak suka jika ibunya berzina”.
Nabi : “Sukakah engkau kalau anak perempuanmu yang berzina?”.
Pemuda: “Tidak, demi Allah”.
Nabi : “Orang lain pun tidak akan senang kalau anak perempuan mereka berzina”.
Nabi : “Sukakah engkau kalau saudara perempuanmu berzina?”
Pemuda: “Tidak, demi Allah”.
Nabi : “Demikian juga orang lain, mereka tidak akan senang kalau saudaranya berzina”.

Ber-turut-turut Nabi SAW menanyakan pendapat pemuda itu jika yang berzina adalah saudara perempuan ayah atau ibunya, pemuda itu pun selalu menjawab, “Tidak, demi Allah”. Nabi pun membalas, “Orang lain pun tentu tidak suka”.

Lalu Nabi meletakkan tangannya di ubun-ubun pemuda itu dan berdo’a: “Allahummaghfir dzanbahu wa thahhir qalbahu wa hashshin farjahu” (Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikan hatinya, dan peliharalah kemaluannya).” Sejak saat itu, pemuda itu tidak pernah berpaling dari ketaatan kepada Allah SWT.

Wallahu a’lam.

<“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” [TMQ At-Tahrim (66):6]>

بارك الله فيكم وجزاكم الله خير الجزاء

Advertisements

بسم الله الرحمان الرحيم

Mati adalah sesuatu perkataan yang paling ditakuti oleh hampir setiap manusia. Setiap orang, juga binatang takut mati, kecuali beberapa manusia yang sudah putus asa dalam kehidupan ini, yang ingin segera mati. Wajar sekali kalau manusia takut mati, sebab mati bererti berpisah dengan segala yang ia miliki atau senangi, berpisah dengan segala yang disayangi atau dicintai. Berpisah dengan anak dan isteri serta kekasih. Berpisah dengan bapa atau ibu, berpisah dengan harta dan pangkat, berpisah dengan dunia dan segala isinya.

Semua orang takut mati, tetepi ada yang berlebihan sekali, ada pula yang takutnya itu sedikit sahaja, bahkan ada yang tak takut sama sekali, malah berani dan ingin mati. Ketakutan terhadap mati adalah kerana dua hal :-

Kerana kurang atau tidak adanya pengetahuan kita tentang mati, keadaan mati dan keadaan selepas mati adalah gelap. Semua orang takut menempuh tempat yang gelap dan tidak diketahui. Kerana doa dan kesalahan yang sudah bertumpuk dan tidak bertaubat, sehingga mendengar kata mati sudah terbayang azab dan seksa yang diperolehinya akibat dosa dan kesalahan tadi. Bagi orang cukup pengetahuan dan keyakinan terhadap hidup sesudah mati dan merasa dirinya tak pernah melakukan dosa dan kesalahan, maka baginya tak ada ketakutan terhadap mati malah ingin mati. Tetapi agama Islam melarang orang ingin cepat mati, agar dapat hidup melakukan kebaikan sebanyak-banyaknya. Dan kalau ingin hidup lama adalah dengan tujuan agar dapat semakin banyak melakukan kebaikan bukan pula untuk dapat lebih banyak menumpuk harta dan kekayaan atau keturunan.

Ada beberapa petunjuk Rasullullah s.a.w. untuk selalu zikrul maut (ingat akan mati) ini, antara lain :-

1) Perintah memperbanyak mengingati mati :”

Perbanyaklah mengingat-ingat sesuatu yang melenyapkan dan menjadikannya segala macam kelazatan (kematian).” ( Riwayat At-Turmudzi )

2) Mengingati kematian dapat melebur dosa dan zuhud :

Perbanyaklah mengingati kematian, sebab yang demikian itu akan menghapus dosa dan menyebabkan timbulnya kezuhudan di dunia.” ( Riwayat Ibnu Abiddunya )

3) Kematian sebagai penasihat pada diri sendiri :

Cukuplah kematian itu sebagai penasihat.” ( Riwayat Ath-Thabrani dan Baihaqy )

4) Orang cerdik ialah orang yang banyak mengingati mati :

Secerdik-cerdik manusia ialah yang terbanyak ingatannya kepada kematian serta yang terbanyak persiapannya untuk menghadapi kematian itu. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar cerdik dan mereka akan pergi ke alam baka dengan membawa kemuliaan dunia dan akhirat.” (Riwayat Ibnu Majah dan Abiddunya)

Hadis-hadis di atas menerangkan kepentingan mengingati mati dalam individu Muslim. Sesungguhnya dengan mengingati mati, ia akan dapat membentengkan diri daripada terpengaruh dengan kelazatan duniawi yang bersifat sementara. Hal ini, inshaAllah akan meneguhkan lagi keimanan kita terhadap hari akhirat yang kekal abadi.

Ternyata mengingati mati merupakan salah satu senjata yang ampuh dalam menentang naluri duniawi seperti kecintaan melampau pada harta, keturunan, [dll.] dalam diri individu, disamping ianya merupakan salah satu usaha dalam mendekatkan diri hamba pada Allah s.w.t. maka, jelaslah bahawa, mengingati mati merupakan penasihat yang berguna manusia terhadap dirinya sendiri dan orang lain.

Orang yang benar-benar ingat dan percaya akan kematian, alam barzakh, dan hari akhirat, dan yang paling penting percaya akan pertemuan dengan Allah s.w.t, sudah pasti akan mengingati kematian dan sentiasa menjadikannya sebagai salah saatu usaha dalam mengurus kehidupannya di dunia ini berlandaskan syriat Allah s.w.t demi meraih redhaNya, di dunia dan akhirat.

Orang sebeginilah yang hakikatnya celik pancaindera dan mindanya. Bahkan selayak-layak digelar sebagai orang yang benar-benar cerdik sebagaimana disebut dlam hadis riwayat ibn Majah di atas. Subhanallah, inilah petanda orang-orang yang beruntung kerna mereka benar-benar yakin dan sedar bahawa realiti kehidupan hari ini  adalah sementara dan pinjaman semata-mata serta penuh dengn kepalsuan. Dan sesungguhnya, pertemuan dengan Allah, hari akhirat, syurga dan neraka itulah yang sebenar-benarnya hala tuju kehidupan.

Maka, beruntunglah orang-orang yang penuh keyakinan serta disusuli dengan usaha-usaha sewajarnya dalam mempersiapkan diri mereka untuk menghadapi kematian…yang menjadi persinggahan dalam menuju jalan menuju ke kehidupan abadi….dan sesungguhnya hanya amal lah yang menemani…

Agar selalu ingat kepada kematian perlu dilakukan perkara-perkara berikut :

1) Menyaksikan orang yang sedang sakaratul maut. Betapa dasyatnya dan menakutkan lebih-lebih kalau berdosa. Keadaan sakaratul maut ini digambarkan oleh Rasullullah dalam hadisnya yang bermaksud :

Sakitnya sakaratul maut itu kira-kira tiga ratus sakitnya pukulan pedang.” ( Riwayat Abiddunya ).

Sesungguhnya Nabi s.a.w. mempunyai segelas air ketika hendak meninggal dunia. Baginda memasukkan tangannya ke dalam air, kemudian mengusap wajahnya dengan air itu dan berkata :

Ya Allah, semoga Tuhan mempermudah kepada saya terhadap sakaratul maut ini.” ( Riwayat Bukhari dan Muslim )

2) Mengunjungi orang sakit, sebab hujung dari penyakit ini tidak lain adalah kematian. Dari itu kita selalu waspada dan berhati-hati.

3) Melakukan ziarah kubur, sebagaimana sabda Rasullullah :

“Lakukanlah ziarah kubur kerana ia mengingatkan mati.” ( Riwayat Muslim )

4) Sentiasa ingat akan Allah s.w.t dan Dia ada di mana-mana. Merasakan diri selalu diawasi Allah s.w.t. dimana saja kita berada. Oleh dengan demikian sentiasalah beramal yang baik. Rasullullah s.a.w. bersabda :

“Seutama-utama iman seseorang itu ialah bahawa ia mengetahui dengan sungguh bahawa Allah s.w.t. itu ada bersama dengannya di manapun ia berada.” ( Riwayat ‘Ubadah bin Shamit )

5) Sedarilah bahawa perasaan kita sering disaksikan oleh anggota badan kita sendiri, yakni oleh lidah, tangan, kaki, kulit, telinga, mata dan hati. Hal ini difahamkan Allah dalam Al-Qur’an yang bermaksud :

“Pada hari (ketika) lidah tangan dan kaki mereka menyaksikan atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (  TQM, An-Nur: 24 )

6) Begitu pula agar disedari bahawa perasaan kita selalu disaksikan. Dilihat dan diikuti oleh siang dan malam bumi tempat kita berpijak, langit serta malaikat Raqib dan Atib dan malaikat-malaikat lainnya. Allah s.w.t. berfirman :

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan hatinya. Dan Kami lebih dekat kepadanya dari urat nadi lehernya sendiri. Ketika dua malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain di sebelah kiri, tiada sesuatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” ( TQM, Qaf: 16-18 )”

Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran dimuka dan dibelakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah.” ( TQM, Ar-Ra’d: 11).

(Malaikat ini disebut malaikat Hafazhad)

Sebagaimana disebutkan di atas bahawa mati adalah satu kejadian yang paling berat, paling menakutkan dan paling mengerikan. Satu kejadian yang pasti akan dihadapi dan dialami oleh setiap manusia, atau kejadian yang tak dapat dihindari dengan cara bagaimanapun juga. Para Nabi dan Rasul, jin dan malaikat sekalipun tidak dapat menghindari diri dari kematian ini.

Dalam Al-Qur’an Allah s.w.t. menjelaskan :

1) Kepastian tentang mati :

a) Kematian itu datang sesuai dengan ajal yang telah ditetapkan ke atas mereka (manusia).

b) Ke mana saja manusia pergi/berlari kematian tetap akan mengejarnya.

c) Kematian datang tanpa pilih umur, tanpa pilih waktu dan tempat.

2) Cara mati :

Rasullullah s.a.w. bersabda :

Apabila telah tiba hukum Allah kepada seorang hamba untuk mati dan dikuburkan pada suatu tanah, Allah mengadakan suatu keperluan baginya untuk pergi ke tempat itu (sehingga mati dan dikuburkan pada tanah di situ). ( Riwayat At-Tirmudzi )

MAKAnya; setiap manusia pasti akan menempuh kematian dan kematian itu akan menemui kita pada bila-bila masa sahaja. Kematian akan menjelma sama ada melalui pelbagai cara sebgaimana yang telah ditentukan oleh Allah s.w.t. Saat itu takkan berubah dan berganjak biar sedetik pun. ia tetap akan datang apabila sampai masanya. Walaupun manusia itu tidak bersedia atau pun tidak mahu akan kematian itu. Ia tetap akan hadir.

Hal demikian jelas sebagaimana firman Allah s.w.t yang bermaksud:

Setiap jiwa manusia pasti akan menempuh mati”. (TQM, Ali Imran, 185)

dan

“Di mana jua kamu berada, maut akan mendapatkan kamu (bila sampai ajal), sekalipun kamu berada dalam benteng-benteng yang tinggi lagi kukuh”. (TQM, An-Nisa’ 78).

Oleh itu, kita hendaklah sentiasa berusaha mendapatkan husnul khatimah pada penghujung kehidupan. Husnul Khatimah bermaksud kesudahan hidup di dunia yang baik, manakala, sebaliknya su’ul khatimah iaitu berakhirnya kehidupan manusia sebagai penyudah yang buruk.

“Ya Allah,

Jadikan lah sebaik-baik umurku pada hujungnya,

dan sebaik baik amal ku adalah pada hujung akhir nya ,

dan sebaik baik-baik hariku adalah pada saat aku bertemu Mu.”

(An-Nawawi)

Ameen.

Kredit:

Al Quran, hadith

and syukran to Mujahid al-faqir and otrs. 🙂

الحمد لله و

بارك الله فيكم وجزاكم الله خير الجزاء

بســـــــم الله الرحمان الرحيم

I’M trying to transforming myself into something else better. InsyaAllah. Thanks to all da’ie outta here… for never give up in spreading Allah words and His Rasul trusts to his ummat. MasyaAllah, Allah is the Most Forgiver, The Most Truthful, The Most Reliable… He never left me all tis while. But, always, it is me whom often failed to reply the calls.

All those efforts … hopefully its working…to inspire me. So that I’ll be able to encourage (perhaps persuading) myself to choose this path…the right path…  forever… which I’m as a Muslim supposed to b… since long time ago…. I’m kinda wasting my time… for so long… May Allah forgives me for the reckless life that I’ve led before (or perhaps, still, remains unaware.). May He forgives me, for tightly closed my heart to the Truth. He is The Most Merciful…

Now, hopefully that He fares me better…and lead me to the right way…and  now I’ve turned to Him. Repenting for all sins… and humbly relying on His guidances to guide me back to Him.

Another steps in re-constructing me… as a Muslim.

Hope to be loved by Him… and to Him I’m devoting myself… May He gives me degree of  strength to get through all the challenges in the future.

Amen…


I’ve decided to re-write again.. and here’s my entrance. [ekceli this was my first “entrance”. I wrote this back years ago. Now, I’m trying to refreshing my memories of those days and any other days, which I made promises to Him. Seeking for His guidances. Living in current world ekceli really scares me enuff. Lotsa confusions and `unwanted choices’.

I’m not yet convinced to share everything that perplexed inside my mind, body n soul… May be bcos I often feel insufficient encouragement from the ppl around me… in fact in certain circumstances, I cant rely on otrs. [why?] 🙂

And I do feel sometimes.. that ppl are kinda boring to hear me. (or may be I’m wrong…forgive me). ;p  May be it is only me who “too-love” to `hear’ to otrs. Or may be I am too secretive, too passive. Am I?  Ha-ha. Now’s everything seems funny! 8)

In fact, it often happen that, I thought I’v found a person who I can trust most and who willing to hear me [sincerely]. But, things turn out to be different. Over and over again it’s actually wrong…or not-so-right  kot. Huhu

Or may be the person… is not yet available. Or perhaps, never exist. Pity me. 🙂 Wallahualam. But, Allah, He always present at any moments. May Allah forgives me.

Ah-ha! That would be the mistakes. May be I’m kinda too complex or demanding [uish? Naa..nope too much. ;p ] Whatsoever. Lessons that we need to learn from this `situation’ are,

As Allah swt says in Surah Dhariyaat:

فَفِرُّواْ إِلَى اللَّهِ

All we need to do is flee to Allah. As the Most Merciful, Allah always welcoming us. No matter how far we’v walked away from Him in the past. All we need to do is, to keep finding Him. And, to understand the mercy of Allah. Allah wants us to return to Him. Hence, when we are running (on going marathon until death), fleeing from something that we are scared, dont we ever forget that Allah is telling us to run towards him.

Human are not perfect. So do I. Imperfect human. Hence, by turning to human we might not get the satisfaction that we are actually need. Therefore, seeking Allah is the best way to fills in the loopholes in our heart(s). [somebody reminds me that heart is 5. So put `s’. 🙂 okay then.]

Allah would be the best for us to seeking for shelter and putting our trust. So,  I’m sharing most of `lafaz yang tersimpan’ with Him. Because, I trust that Allah is the key of all happiness. In this world and Hereafter. After all, He is the One that knows everything, and He is the One who will be the Judge in the End. And, His judgments, are none of the biasness but all perfect and fair evidences  presented before us and all creatures. Subhanallah…

What we need to always bear in mind is that the sin should be given up only for the sake of Allah, not for any other reason, such as being unable to do it, or being afraid of what people will say.

“… Seek the forgiveness of your Lord, and turn to Him in repentance…” [Surah Hud, 11:3]

Taubat [repentance] conveys a very deep meaning. It is more than mere saying or uttering for forgiveness. It was sometihing higher and over it.

Ya Allah, sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik tempat mengadu…

Dia lah Maha Mendengar…

Maha Memberi ilham dan Petunjuk….

Ku hadir pada Mu Ya Allah… mendambakan kasih Mu…

Semoga Kau menerima ku yg lemah dan hina…

Sesungguhnya Allah lah yg Maha Mengetahui setiap isi hati…

memohon keampunan dari Mu atas segala kekhilafan…

Sesungguhnya aku berserah diri pada Mu…

Semoga peringatan ini dapat kita selami bersama dalam membentuk jati diri Muslimin@Muslimah sejati dalam diri. InshaAllah. Amin.

Wallahu’alam

_________________

*Mohon maaf atas kelemahan bahasa dan bahasa Inggeris. Practice makes perfect. InshaAllah. 🙂