Posts Tagged ‘syariah’

Kami memulai kajian ini, dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Rasul-Nya yang mulia, serta keluarga dan para shahabatnya.

Saat ini, kaum Nasrani (Kristen) sedang merayakan Natal dan Tahun Baru

Masehi. Namun tidak sedikit di antara kaum Muslim yang turut merayakannya bersama mereka. Dan mereka pun saling mengucapkan selamat kepada kaum Nasrani dalam memperingati hari rayanya ini. Maka, kepada mereka ini, ka

mi katakan “j

anganlah kalian turut bersama kaum Nasrani dalam merayakan hari raya mereka”. Sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Saw; sebaliknya seburuk-buruk perkara adalah perkara (peribadatan) baru yang tidak dikenal dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah (muhdats), dan setiap muhdats adalah bid’ah; sementara setiap bid’ah itu adalah kesesatan, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.

Allah Dzat Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi berfirman: “Katakanlah: ‘Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia’.” (TQS. Al-Ikhlash [112] : 1-4).

Surat Al-Ikhlash ini sebagian dari Kitabullah, yang datang dari Dzat Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi. Surat ini, sekalipun pendek, namun sebanding dengan sepertiga dari Al-Qur’an.

Di dalam surat Al-Ikhlash ini terkandung:

–      Tauhid (keimanan atas ke-Esaan Allah) dan keikhlasan.

–      Akidah (keyakinan) yang bersih dan murni.

Sesungguhnya Allah Dzat Yang Maha Suci dan Maha Tinggi ini tidak mempunyai anak, tidak mempunyai sekutu, tidak datang dari seorang pun, serta tidak memiliki keturunan dan nasab seperti yang diklaim oleh kaum Yahudi dan Nasrani (Kristen). Mereka (kaum Nasrani) berkata: “Al Masih itu putera Allah“, dan mereka (kaum Yahudi) berkata: “Uzair itu putera Allah“. Maha Suci dan Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka katakan dengan ketinggian yang sebesar-besarnya.

Allah Dzat Yang Maha Suci dan Maha Tinggi ini, sama sekali tidak butuh pada salah satu di antara ciptaan-Nya, sebaliknya semua makhluk butuh kepada-Nya. Allah itu Maha Kaya, sebaliknya semua makhluk adalah miskin. Allah adalah tempat bergantungnya segala yang ada, di mana kehidupan ini tidak akan tegak kecuali dengan pemeliharaan, kebaikan dan belas kasih dari Allah Dzat Yang Maha Suci dan Maha Tinggi lagi Maha Kuasa.

Surat Al-Ikhlash ini menetapkan akidah dasar dan fundamental yang harus tertanam kokoh dalam lubuk hati setiap makhluk yang ada di alam semesta ini, yaitu ke-Maha Esaan Allah Dzat Yang Maha Suci dan Maha Tinggi. Sehingga Allah merupakan satu-satunya yang berhak disembah, sedang yang selain Allah semuanya adalah hamba bagi-Nya.

Allah SWT berfirman: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba. Sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti.” (TQS. Maryam [19] : 93-94).

Berdasarkan perspektif akidah tauhid yang sifatnya fitrah (ada bersamaan dengan penciptaan manusia), yang telah ditetapkan oleh surat Al-Ikhlash, maka kami dapat mengatakan dengan penuh keyakinan dan kepercayaan, serta menegaskan kepada semua manusia yang ceroboh dan kebingungan, bahwa Isa (Yesus) as adalah hamba Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi. Isa as ini keberadaannya seperti Adam as yang tidak memiliki ayah dan ibu. Sedangkan Isa memiliki ibu, semoga Allah merahmati keduanya. Oleh karena itu, Allah SWT menasabkan Isa kepada ibunya. Dalam hal ini Allah SWT berfirman: “Itulah Isa putera Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya.” (TQS. Maryam [19] : 34).

Benar! Dalam hal ini, tidak sedikit di antara kaum Nasrani (Kristen) yang bingung dan ragu terkait masalah Isa (Yesus) as ini:

–      Apakah dia itu Allah?

–      Apakah dia itu anak Allah?

–      Atau apakah dia itu salah satu dari yang tiga?

Akan tetapi Allah SWT tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, serta tiada sekutu bagi-Nya: “Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Maha Suci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya: ‘Jadilah’, maka jadilah ia.” (TQS. Maryam [19] : 35).

Jika Rasulullah, Muhammad bin Abdillah Saw menyeru kepada tauhid, maka Isa as juga menyeru kepada tauhid. Di mana Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: ‘Sesungguhnya Allah adalah Al Masih putera Maryam’, padahal Al Masih (sendiri) berkata: ‘Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu’. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (TQS. Al-Maidah [5] : 72).

Jika kaum Nasrani (Kristen) sekarang ini menyandarkan perkataannya kepada Isa as, bahwa Isa adalah Tuhan dan anak Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi, maka Isa as kelak akan menunjukkan bahwa mereka berbohong dan akan memperlihatkan kebohongan mereka kepada para pembesar yang menjadi saksi pada hari kiamat. Di mana Allah SWT berfirman: “Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: ‘Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: ‘Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?’ Isa menjawab: ‘Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui semua perkara yang ghaib’. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan) nya yaitu: ‘Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu’, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.” (TQS. Al-Maidah [5] : 116-117).

Mereka yang memper-Tuhan-kan Isa as; mereka yang mengklaim bahwa Isa adalah anak Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi; atau mereka yang mengatakan bahwa Allah adalah salah satu dari yang tiga, maka mereka adalah kaum kafir yang sesat dan fasik, di mana-kami sebagai umat yang bertauhid-wajib berlepas diri dari perkataan mereka yang menyesatkan ini. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: ‘Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga’, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Al Masih putera Maryam hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahli Kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu).“(TQS. Al-Maidah [5] : 73-75).

Setelah jelas kekafiran mereka yang menyandarkan kebohongan dan kedustaannya kepada Isa as, dan setelah begitu telanjang kesesatannya, maka sampailah pada pertanyaan yang menggugah keyakinan, adalah apakah diperbolehkan bagi kita-sebagai kaum Muslim-turut bersama kaum kafir dan Kristen merayakan hari raya mereka yang terkait dengan ritual keagamaan yang penuh dengan kesyirikan dan kekufuran ini?!

Sesungguhnya hari raya Nasrani (Kristen) termasuk di antara ritual dan peribadatan yang terkait dengan agama. Dalam hal ini, sungguh kaum Yahudi dan Nasrani (Kristen) telah dikutuk dan dilaknat, karena mereka telah mengubah dan mengganti agama Allah SWT di dalam kitab-Nya. Oleh karena itu, hari raya mereka bagian dari ritual keagamaan mereka yang telah menyimpang.

Hari raya kaum Nasrani (Kristen) ini-wahai umat tauhid-adalah terkait erat dengan kekafiran yang besar, yang jika hal itu didengar oleh gunung, langit dan bumi, maka dengan mendengar kekufuran itu semuanya benar-benar menjadi pecah dan retak.

Dan mereka berkata: ‘Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak’. Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka mendakwa Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak. Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba. Sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti.” (TQS. Maryam [19] : 88-94).

Jika langit, gunung dan bumi bereaksi dengan reaksi yang begitu menakutkan ini terhadap mereka yang menisbatkan anak kepada Allah SWT. Maka bagaimana dengan Tuhan kalian-wahai kaum Muslim-ketika kalian turut bersama kaum Nasrani (Kristen) merayakan hari raya mereka, mengucapkan selamat atas kebatilan dan agama mereka yang merupakan simbol keagamaan bagi akidah mereka yang kufur dan sesat. Bukankah itu merupakan bentuk pengakuan kalian atas agama mereka yang batil?

Sedangkan yang menunjukkan kepada kalian akan hubungan erat hari raya mereka dengan agama mereka yang sesat, adalah adanya hari raya di antara hari raya mereka, di mana masing-masing dari mereka membawa sepiring makanan, dan kemudian makanan itu mereka tempatkan di atas meja panjang, selanjutnya mereka membuka semua penutup yang menutupi makanan itu selama satu jam, kurang dari satu jama, atau lebih dari satu jam. Pertanyaannya, mengapa mereka membuka penutup dari semua makanan yang mereka bawa?

Jawaban mereka adalah agar diberkati oleh Tuhan. Siapa Tuhan yang dimaksud? Tuhan yang dimaksud seperti klaim mereka adalah Yesus, Al Masih as, yang datang untuk memberkati makanan mereka dalam memperingati kekufuran. Kemudian mereka memakan sesuap makanan yang telah dikuduskan seperti yang mereka klaimkan.

Masalahnya, bagaimana ritual bid’ah yang kufur tersebut tersebar di selain wilayah mereka, dan di selain negara mereka, di negeri-negeri kaum Muslim, misalnya?

Mereka datang ke negeri-negeri kaum Muslim dan mengadakan pesta dengan nama pesta bertopeng (haflah tanakkuriyah). Mereka berkata bahwa pesta ini untuk anak-anak, sebagai hiburan dan permainan. Namun sebenarnya-wahai kaum Muslim-sesungguhnya pesta itu adalah penyesatan bagi generasi kaum Muslim yang tertipu dan terperdya, serta bodoh dan lemah.

Cukuplah Allah menjadi Penolong kami, dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung. Sebab mengapa kaum Muslim yang bodoh itu senang turut bersama kaum Nasrani (Kristen) dalam merayakan pesta seperti ini? Apakah mereka juga percaya dan menyakini tentang turunnya Tuhan Isa (Yesus) as, seperti yang mereka klaim dalam peringatan ini, untuk memberkati mereka melalui makanan yang mereka berikan kepada anak-anak dalam pesta itu? Sungguh ini merupakan kekufuran yang nyata dan jelas. Sehingga tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari Allah SWT.

Al-Hafidz adh-Dhahabi berkata dalam Risalahnya “Tasyabbuhul Khasîs bi Ahlil Khamîs“: “Jika seseorang berkata, bahwa kami melakukan itu adalah untuk anak-anak kecil dan wanita? Maka katakan padanya, bahwa seburuk-buruk keadaan seseorang adalah siapa saja yang senang (rela) keluarganya dan anak-anaknya melakukan apa yang menyebabkan murka Allah SWT.

Kemudian beliau mengutip perkataan Abdullah bin Amr, semoga Allah meridhoi keduanya, yang berkata: “Siapa saja yang merayakan tahun baru bagi bangsa persia (nairûz), mengadakan pesta dan hura-hura mereka, serta menyerupai mereka hingga meninggal ia masih seperti itu, dan belum juga bertaubat, maka di hari kiamat ia akan dikumpulkan bersama mereka.” (HR. Baihaki. Sedang sanadnya telah dishahihkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah).

Perkataan Abdullah ini menegaskan bahwa perbuatan seperti itu termasuk di antara dosa-dosa besar. Sehingga melakukan sedikit dari perbuatan itu akan membawa pada perbuatan yang lebih banyak lagi.

Oleh karena itu, setiap Muslim wajib menutup pintu ini mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki, serta menjauhkan keluarga dan anak-anaknya dari melakukan perbuatan seperti itu. Selanjutnya, ciptakan kebaikan sebagai kebiasaan, dan jauhi bid’ah sebagai ibadah.

Dan janganlah mengatakan perkataan orang bodoh: “Dengan ini, aku telah menyenagkan anak-anakku!”

Apakah sudah tidak ada, wahai Muslim, sesuatu yang dapat menyenangkan mereka, selain perbuatan yang menyebabkan murka Allah, dan diridhoi setan, yaitu simbol-simbol ritual kekufuran dan kesesatan?!

Dengan demikian, seburuk-buruk pendidik adalah Engkau, yang membiarkan keluarga dan anak-anaknya terjerumus dalam kegelapan. Cukuplah Allah menjadi Penolong kami, dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.

 

Sumber: HTI

Sampai di sini dulu kajian kita ini, dan berikutnya akan kami bicarakan tentang hukum ikut serta merayakan hari besar kaum Nasrani (Kristen).

Undang-undang Islam tak cukup mantap tangani kes zina, kata pakar

anti-zinaKUALA LUMPUR, 17 Dis — Undang-undang jenayah Syariah perlu dikaji semula agar sistem kehakiman itu mempunyai kuasa menyeluruh sebagai pencegah gejala zina dan pembuangan bayi yang terus mendapat perhatian masyarakat.  Pensyarah Jabatan Undang-undang Islam Universiti Islam Antarabangsa, Prof Madya Dr Paizah Ismail berkata, undang-undang jenayah Syariah yang diamalkan bukan undang-undang bertujuan untuk merealisasikan syariat Islam sepenuhnya.  “Sebaliknya, ia merupakan undang-undang yang berperanan untuk menampung kekurangan yang ada pada undang-undang konvensional dalam hal keagamaan.  “Kerana itulah peruntukan-peruntukan dalamnya lebih bersifat untuk menjaga kepentingan keagamaan bagi umat Islam di negara ini dan bukan melaksanakan undang-undang jenayah Islam sepenuhnya,” kata beliau pada Muzakarah Fatwa “Menangani Zina serta Pembuangan Bayi di kalangan Remaja dan Pelajar Sekolah di Institut Kefahaman Islam Malaysia (IKIM) di sini.

Melihat kepada kes zina dan pembuangan bayi yang semakin berleluasa, Paizah berkata undang-undang jenayah Syariah gagal untuk berperanan sebagai sebuah badan yang bertanggungjawab menangai gejala itu.  “Mungkin agak janggal untuk mengatakan undang-undang jenayah Syariah di Malaysia sekarang tidak cukup mampu berperanan sebagai satu faktor pencegah gejala perzinaan dan pembuangan bayi yang semakin berleluasa.  “Tetapi itulah hakikatnya, meskipun syariat Islam yang menjadi asas kepada undang-undang mempunyai hukuman yang cukup berkesan bagi menghadapi gejala seperti itu, namun syariat tidak diikuti sepenuhnya oleh undang-undang tersebut.  “Tambahan pula rakyat Malaysia termasuk orang Islam masih prejudis terhadap keadilan syariat Islam, realiti ini telah meletakkan undang-undang jenayah Syariah di tempat yang salah,” katanya.  Beliau juga berkata, dengan sedikit bidang kuasa dan tradisi mahkamah yang kurang mantap, undang-undang jenayah Syariah tidak boleh menyumbang ke arah menyelesaikan masalah zina dan pembuangan bayi.  “Kesan pelaksanaan mungkin ada tetapi sedikit sekali, hasilnya tidak lebih daripada rutin yang tidak mampu mempengaruhi perkembangan masyarakat.  “Justeru dalam menghadapi realiti yang serius seperti soal perzinaan dan pembuangan bayi, undang-undang yang cukup berkesan diperlukan kerana syarat ini tidak dapat dipenuhi undang-undang jenayah syariah sekarang.  “Peruntukan-peruntukan yang terdapat di dalamnya tidak mampu memberi kejutan kepada remaja dan penuntut terlibat supaya lebih berhati-hati agar tidak akan berhadapan dengan hukuman berat yang sukar dipikul,” katanya.

Sumber: The Malaysian Insider 17/12/10

Golongan intelektual masih malu-malu untuk menyatakan kaedah perlaksanaan “Undang-undang Syariah” di Malaysia telah menyimpang daripada Islam.

Jika para golongan intelektual hari ini masih terus malu-malu untuk mengatakan bahawa kaedah perlaksanaan undang-undang syariah di Malaysia pada ketika ini telah menyimpang daripada kaedah perlaksaan yang sebenar, maka selagi itulah segala permasalahan yang sedang berlaku pada hari ini akan terus berpanjangan dan tidak ada titik noktahnya. Masyarakat akan terus dikaburi dengan pemikiran yang salah. Pemahaman mereka terhadap Islam akan terus tersasar sehingga akhirnya mereka merasa selesa dengan cara hidup Kapitalisme sepertimana yang kita saksikan hari ini. Mereka tidak sedar bahawa kehidupan yang saat ini sedang mereka jalani adalah sebenarnya suatu kehidupan yang senantiasa mengundang murka Allah SWT.  Hanya dengan melaksanakan sebahagian kecil undang-undang syariah dan seluruh kehidupan diatur oleh undang-undang dan sistem kehidupan yang bukan berlandaskan Al Quran dan As Sunnah, ianya jelas mendapat kemurkaan daripada Allah SWT. Ini berdasarkan firmanNya:

“Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat”. [TMQ al-Baqarah (2) : 85]

Buatlah apa sahaja program, samaada seminar, muzakarah, konvensyen dan seumpamanya dengan tujuan kononnya untuk menyelesaikan masalah yang timbul di dalam kehidupan manusia hari ini, namun jika majlis-majlis seperti itu tidak berani menyatakan kebenaran dan perkara yang hak malahan bersikap lunak dengan kemungkaran yang dilakukan oleh pemerintah yang ada hari ini, maka selagi itulah masyarakat akan terus berada di dalam terowong kegelapan. Untuk itu, bagi umat Islam tidak ada pendekatan yang lebih baik selain daripada kembali menerapkan Islam secara menyeluruh(kaffah). Firman Allah SWT: “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”.[TMQ Al Baqarah (2) : 208]. Hanya Khilafah penyelesaiannya.

sumber: mykhilafah.com

SN Keluaran 24 September 2010

 

alt

 

HUKUM PEMBUNUHAN MENURUT ISLAM


[SN231] Kes jutawan kosmetik, Datuk Sosilawati Lawiya dan tiga yang lain yang dipercayai dibunuh dengan cara yang kejam sememangnya menggemparkan negara. Walaupun kes ini bukanlah kes yang pertama seumpamanya, kerana sebelum ini negara telah pun digemparkan dengan kes Altantuya yang mayatnya diletupkan dengan bom khas yang tidak boleh didapati oleh orang awam. Kematian keempat-empat orang mangsa kali ini amatlah tragis, apatah lagi kerana kesemua mangsa telah dilaporkan hilang beberapa bulan sebelumnya tanpa ada siasatan dari pihak polis. Dalam masa yang hampir sama, negara juga dikejutkan dengan kematian seorang ustazah, Norliza Ishak dan anaknya, yang dipercayai dibunuh oleh jirannya sendiri. Sebelum ini, kita mendengar begitu banyak kes penderaan dan pembunuhan kejam ke atas kanak-kanak, bunuh bayi dan banyak lagi pembunuhan lainnya yang cukup mengerikan. Ini belum mengambil kira kes-kes jenayah lain lagi yang semakin hari semakin menakutkan.

 

Sesungguhnya tidak ada alasan yang lebih sesuai untuk dilontarkan terhadap kes pembunuhan yang semakin menjadi-jadi kebelakangan ini kecuali ia adalah natijah penyelewengan manusia dari hukum Allah. Manusia yang menjadi pembunuh tersebut sudah pastinya jenis orang yang tidak mempedulikan hukum Allah, manakala negara pula menerapkan sistem kufur di dalam pemerintahan dengan meninggalkan hukum Islam yang datangnya dari Allah. Inilah natijahnya apabila manusia berhukum dengan hukum sendiri yang kesudahannya akan pasti membawa kepada segala bentuk kerosakan dan kemudharatan. Sautun Nahdhah kali ini ingin menarik perhatian pembaca kepada hukum Islam berkaitan dengan pembunuhan, yang hanya dapat dilaksanakan apabila adanya seorang pemimpin yang beriman dan bertakwa kepada Allah Azza Wa Jalla.

 

Bentuk-bentuk Pembunuhan Di Dalam Islam

 

Menurut Abdul Rahman Al-Maliki di dalam kitabnya Nizamul Uqubat, pembunuhan dapat dikategorikan kepada empat jenis iaitu:-

(i) pembunuhan sengaja (qatlu al-amad)
(ii) mirip sengaja (shibhul amad)
(iii) tersalah (khata’)
(iv) tidak sengaja (ma ujri mujarral khata’).

 

Adalah menjadi perkara yang maklum minaddin bi dharurah (tidak ada alasan untuk tidak mengetahui) bahawa melakukan pembunuhan secara sengaja adalah haram secara qath’ie (pasti). Firman Allah SWT

“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya adalah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya dan melaknatnya serta menyediakan azab yang besar baginya.” [TMQ an-Nisa’ (4):93].

Pembunuhan sengaja (al-qatlu al-amad) bermaksud membunuh orang lain dengan sesuatu (alat) yang pada umumnya dapat membunuh orang tersebut atau memperlakukan orang lain dengan suatu perbuatan yang pada umumnya dapat membunuh orang tersebut. Ia boleh dikategorikan kepada tiga macam:-

 

Pertama: Menggunakan alat yang biasanya dapat membunuh seseorang, misalnya pedang, pisau, pistol, bom tangan atau apa sahaja yang biasanya dapat digunakan untuk membunuh. Ini termasuklah memukul orang dengan benda berat dan besar yang boleh mengakibatkan kematian seperti batang besi, batang kayu, tukul, batu besar dan lain-lain.

 

Kedua: Menggunakan alat yang biasanya tidak dapat membunuh akan tetapi ada indikasi lain yang umumnya akan menyebabkan kematian seseorang. Sebagai contoh, penggunaan tongkat yang diperbuat dari besi berat atau yang terdapat paku besar di kepalanya. Begitu juga sekiranya pukulan yang dilakukan adalah berulang-ulang kali yang lazimnya akan menyebabkan kematian meskipun alat yang digunakan adalah tongkat biasa atau batu biasa. Semua ini dianggap sebahagian dari jenis pembunuhan sengaja.

 

Ketiga: Memperlakukan seseorang dengan suatu perbuatan yang biasanya dapat membunuh seseorang seperti mencekik lehernya, menggantung lehernya dengan tali atau melemparkan seseorang dari tempat tinggi seperti dari puncak gunung, bangunan yang tinggi, kapal terbang atau dari kereta yang sedang bergerak laju. Begitu juga dengan menenggelamkan seseorang ke dalam air atau memasukkan seseorang ke dalam api, menghumban seseorang ke kandang singa atau harimau atau binatang berbisa. Juga, boleh jadi dengan cara memenjarakan seseorang dalam tempoh yang lama tanpa diberi makan/minum hingga batas waktu yang tidak mungkin ia dapat bertahan. Jenis perbuatan yang serupa adalah seperti memberi seseorang meminum racun atau makanan yang boleh membunuhnya atau perbuatan apa sahaja yang lazimnya akan menyebabkan kematian. Semua perbuatan yang pada umumya boleh membunuh seseorang adalah tergolong dalam al-qatlu amad. Abu Daud meriwayatkan tentang peristiwa orang Yahudi yang memberikan Rasulullah SAW daging kambing yang beracun, kemudian Abu Salamah berkata tentang peristiwa itu,

“Akhirnya terbunuhlah Basyir bin al-Bara’, kemudian Rasulullah SAW memerintahkan untuk membunuh Yahudi tersebut”.

 

Uqubat (Hukuman) Bagi Pembunuhan

 

Sebelum kami menghurai lebih lanjut akan hukuman ke atas pelaku pembunuhan, perlu kami tegaskan di sini perbezaan di antara undang-undang Islam dengan undang-undang yang diguna pakai di Malaysia pada hari ini. Ada sesetengah orang terkeliru (dan dikelirukan) bahawa undang-undang yang sedia ada adalah bertepatan dengan Islam kerana hukuman bunuh dikenakan ke atas pembunuh. Sesungguhnya hukuman yang ada pada hari ini berbeza sama sekali dengan hukuman Islam dilihat dari sudut mana sekalipun.

 

Pertama: Hukuman sekarang yang diperuntukkan di bawah seksyen 302 Kanun Keseksaan adalah berasal dari undang-undang yang dibuat dan diluluskan oleh manusia di Parlimen, manakala hukuman dalam Islam adalah berasal dari Allah dan Rasul di dalam Al-Quran dan Al-Hadis.

 

Kedua: Mengikut undang-undang sekarang, pihak yang melakukan tuntutan (pendakwaan) adalah kerajaan (pendakwaraya), bukannya ahli waris (wali) mangsa, sedangkan di dalam Islam, hak pendakwaan terletak di tangan wali.

 

Ketiga: Wali kepada pihak yang terbunuh langsung tidak diberi pilihan memilih hukuman, walhal di dalam Islam, wali mempunyai beberapa pilihan yang diberikan oleh syarak (diterangkan di bawah).

Keempat: Hukuman Allah apabila dilaksanakan ke atas manusia akan menjadi pencegah (zawajir) dan penebus dosa (jawabir) bagi pelakunya di akhirat, sedangkan hukuman sekarang tidak akan membawa apa-apa erti, malah akan menimpakan dosa ke atas pelaksananya kerana jelas sekali mereka tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan.

Berbeza dengan hukum kufur ciptaan manusia yang diterapkan pada hari ini, di dalam Islam, hukuman bagi pembunuhan yang disengaja bukanlah hukuman bunuh semata-mata. Wali (ahli waris) kepada yang terbunuh boleh memilih hukuman sama ada qisas (bunuh balas), atau diyat atau memaafkan. Hak ahli waris diterangkan oleh Allah melalui firmanNya,

“Dan barangsiapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh” [TMQ al-Isra’ (17):33].

 

FirmanNya yang lain,

“Diwajibkan atas kamu qisas berkenaan orang-orang yang dibunuh” [TMQ al-Baqarah (2):178].

 

Adapun mengenai pilihan yang diberikan kepada ahli waris, is diterangkan oleh Rasulullah SAW melalui hadis baginda,

“Barangsiapa yang terbunuh, maka walinya memiliki dua hak, boleh meminta diyat (tebusan) atau membunuh si pelakunya (qisas) [HR Bukhari].

 

Imam Abu Daud meriwayatkan dari Abu Syuraih al-Khuza’iy, ia berkata, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, 

 

“Barangsiapa tertumpah darahnya atau disakiti, maka ia boleh memilih salah satu dari tiga pilihan, boleh meng-qisas atau mengambil diyat atau memaafkan. Jika ingin yang keempat, maka kuasailah dirinya”.

 

Kesemua ini merupakan dalil yang sangat jelas bahawa hukuman bagi al-qatlu al-amad adalah qisas atau pihak wali meminta diyat ataupun memaafkan, yang berbeza sama sekali dengan undang-undang yang diterapkan pada hari ini.

 

Berkenaan diyat, terdapat dua jenis diyat iaitu pertama, diyat berat (mughallazah) yakni 100 ekor unta di mana 40 darinya mestilah bunting. Diyat ini diambil dari pembunuhan yang disengaja (qatlu al-amad) apabila walinya memilih untuk meminta diyat. Diyat ini juga diambil dari pembunuhan mirip sengaja (syibhul amad). Kedua, diyat yang tidak berat yakni 100 ekor unta sahaja. Diyat semacam ini diambil dari kes pembunuhan yang tersalah dan tidak sengaja. Dalil untuk kesemua ini diambil dari hadis Nabi SAW. Diriwayatkan oleh Imam Nasa’iy bahawa Amru bin Hazm meriwayatkan di dalam kitabnya bahawa Rasulullah SAW telah menulis surat kepada penduduk Yaman,

 

“Sesungguhnya di dalam jiwa seorang mukmin itu ada 100 ekor unta”.

 

Dikeluarkan dari Tirmizi dari Amru bin Syuaib dari bapanya dari datuknya, bahawa Rasulullah SAW bersabda,

“Barangsiapa yang membunuh dengan sengaja maka keputusannya diserahkan kepada wali-wali pihak terbunuh. Mereka berhak membunuh (qisas) atau mengambil diyat yakni 30 ekor unta dewasa (hiqqah), 30 ekor unta muda (jaza’ah) dan 40 unta yang sedang bunting, dan mereka juga berhak memaafkannya”.

 

Diyat di sini mestilah berupa unta, bukan yang lain. Ini kerana nas telah menetapkannya demikian. Oleh itu, diyat tidak boleh dibayar dengan lembu, kambing, biri-biri atau haiwan yang lain. Tidak ada dalil dari Rasulullah SAW yang menunjukkan atau membenarkan hal tersebut. Adapun terdapat beberapa riwayat dari Amru bin Syuaib dan juga dari Atha’ dari Jabir yang membenarkan diganti unta dengan lembu dan biri-biri, sesungguhnya hadis-hadis tersebut adalah dhaif kerana terdapat di dalamnya Muhammad bin Rasyid al-Dimasyqiy a-Makhuliy dan juga Muhammad bin Ishaq yang terkenal suka melakukan tadlis (pembohongan). Perlu difahami bahawa kedudukan unta (di dalam diyat) adalah dasar diyat. Ia tidak boleh ditukarkan dengan apa jenis haiwan pun dan atas alasan apa pun.

 

Mengenai diyat wang, maka ia diukur dengan emas sebanyak 1,000 dinar dan perak sebanyak 12,000 dirham. Dalil tentang diyat yang dibayar dengan emas adalah apa yang diriwayatkan oleh Nasa’i dari Abu Bakar bin Muhammad bin Amru bin Hazam dari bapanya dari datuknya,

“Dan bagi orang yang memiliki emas (diyatnya) sebanyak 1,000 dinar”.

 

Sedangkan dalil diyat dengan perak adalah berdasarkan riwayat Ikrimah dari Ibnu Abbas,

“Seorang lelaki telah membunuh, kemudian Nabi SAW menetapkan diyatnya sebanyak 12,000 dirham”.

 

Satu dinar syar’ie adalah setara dengan 4.25 gram emas dan satu dirham syar’ie adalah setara dengan 2.975 gram perak. Oleh itu, diyat bagi pihak yang terbunuh, bila dibayar dengan emas adalah sebanyak 4,250 gram atau jika dibayar dengan perak berjumlah sebanyak 35,700 gram perak. Diyat seorang yang merdeka adalah sama dengan diyat seorang hamba, begitu juga diyat seorang lelaki adalah sama dengan diyat seorang perempuan. Juga, tidak ada perbezaan di antara dewasa dan kanak-kanak atau Muslim dan zimmi, kesemua diyat mereka sama sahaja. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW,

“Kaum Muslimin darahnya sepadan”.

Juga sabda baginda,

“Di dalam jiwa seorang mukminah terdapat 100 ekor unta”.

Sabda baginda yang lain,

“Perhatikan orang yang terbunuh kerana pembunuhan yang mirip sengaja, baik terbunuh kerana cambuk mahupun tongkat, maka diyatnya adalah 100 ekor unta.

 

Dalil-dalil ini berlaku umum tanpa dibezakan di antara lelaki mahupun wanita, merdeka mahupun hamba.

 

Pihak Yang Wajib Membayar Diyat

 

Mengenai pihak yang wajib membayar diyat, hal ini perlu dirincikan dan diperhatikan dengan cermat. Untuk kes pembunuhan sengaja (al-qatlu al-amad), diyat diambil dari harta si pembunuh, bukan dari aqilahnya. ‘Aqilah’ adalah pihak asabah  yang memiliki pertalian keluarga dari sebelah bapa (paternal relations/agnates). Adapun adik-beradik lelaki ibu (mother’s brothers) dan lain-lain saudara sebelah ibu (maternal relatives), suami/isteri dan siapa sahaja yang bukan dari sebelah bapa, kesemua mereka tidak termasuk dalam kategori aqilah. Adapun bapa dan anak lelaki bukanlah aqilah kerana aqilah adalah asabah yang tidak mewarisi kecuali bahagian yang ditinggalkan (baki/remainder) sahaja.

 

Dalil bahawa diyat tidak diambil dari aqilah dalam kes pembunuhan sengaja adalah berdasarkan banyak hadis. Antaranya adalah yang diriwayatkan dari Amru bin al-Ahwas bahawa ia hadir pada saat haji wida’ bersama Rasulullah SAW di mana baginda bersabda,

“Tidaklah seseorang pesalah/penjenayah melakukan jenayah kecuali (tertanggung) atas dirinya sendiri. Seorang anak tidak menanggung jenayah bapanya dan seorang bapa tidak menanggung jenayah anaknya”.

 

Dari Ibnu Mas’ud, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda,

“Seorang lelaki (anak) tidak dihukum atas kesalahan bapanya mahupun saudaranya”.

 

Ini adalah dalil-dalil yang menunjukkan bahawa pembunuhan yang disengaja, diyatnya tidak dibebankan kepada aqilah si pembunuh. Begitu juga di dalam kes pengakuan membunuh (confession) di mana diyatnya tidak dibebani kepada aqilahnya. Dari Ubadah bin Samit bahawa Rasulullah SAW bersabda,

“Jangan bebani ke atas aqilah diyat walau sedikit, dari orang yang mengaku membunuh”.

 

Adapun untuk pembunuhan mirip sengaja (syibhul amad), tersalah (khata’) dan juga tidak sengaja (ma ujri mujarral khata’), dalam ketiga-tiga kategori ini, diyatnya adalah terbeban (wajib) ke atas aqilah,. Ini adalah berdasarkan hadis dari Abu Hurairah yang berkata,

“Dua orang wanita dari suku Huzail berkelahi. Salah seorang di antaranya melempar seorang lagi dengan batu. Wanita (yang dilempari batu) itu mati, begitu juga (bayi) yang dikandungnya. Nabi SAW menetapkan bahawa diyat atas janin adalah (membebaskan) hamba lelaki atau perempuan sedangkan diyat bagi wanita itu adalah atas aqilahnya (aqilah si pelempar)”.

 

Difahami dari hadis di atas bahawa membunuh dengan batu adalah termasuk pembunuhan mirip sengaja kerana (melempar) batu lazimnya tidak menyebabkan kematian. Manakala untuk pembunuhan tersalah dan tidak sengaja, terdapat hadis sahih dari Nabi SAW bahawa

“Baginda memutuskan bahawa diyat untuk pembunuhan yang tersalah adalah (dipertanggungjawabkan) kepada aqilahnya”.

 

Sebagai kesimpulan, diyat bagi pembunuhan mirip sengaja, tersalah dan juga tidak sengaja  adalah diwajibkan ke atas aqilah semata-mata, tidak diwajibkan ke atas ahli waris. Jadi, hanya aqilah sahajalah yang mesti membayarnya. Secara terperinci, aqilah seseorang adalah asyeerah (ahli keluarga)nya iaitu adik-beradik lelakinya, bapa saudara sebelah bapa (paternal uncles) dan anak-anak lelaki dari bapa saudara sebelah bapa (sepupu lelaki) sehinggalah kepada datuk yang ketiga (datuk kepada datuk).  Ia bermula dari fakhz (kaum keluarga) yang terdekat. Jika mereka tidak mampu, maka diyat dikumpulkan dari kerabat terdekat yang berikutnya dan seterusnya, yang mukallaf, lelaki dan merdeka dari kalangan asabah nasab (agnates by relation) kemudian asabah sabab (agnates by cause). Jika mereka ini tidak mampu atau tidak ada, maka diyatnya diambil dari Baitul Mal. Disebutkan di dalam hadis Sahal bin Abi Hasyamah tentang seseorang yang terbunuh di Khaibar,

“Kemudian Rasulullah SAW membayar diyatnya dari apa yang ia miliki (Baitul Mal)”.

 

Juga, di dalam hadis Amru bin Syuaib disebut,

“Kemudian baginda membayar diyatnya sebanyak 100 ekor unta dari unta sedekah”.

 

Diyat diambil dari aqilah secara samarata dan diambil dari aqilah yang mampu sahaja. Adapun mengenai persoalan kepada siapakah diyat ini diserahkan, ia diserahkan kepada ahli waris pihak yang terbunuh, bukan kepada aqilah mereka. Ini kerana terdapat hadis yang melarang pembayaran diyat kepada aqilah orang yang terbunuh [sila baca penjelasan penuh di dalam kitab Nizamul Uqubat, Abdul Rahman al-Maliki].

Begitulah serba sedikit penjelasan tentang hukuman bunuh menurut Islam yang dapat diterangkan di dalam ruang yang serba terbatas ini. Melihat kepada kadar jenayah yang semakin meningkat di negara ini, dari satu sudut kita memanglah mengharapkan si pembunuh ditangkap dan dibicarakan segera. Namun, dari sudut yang lain, kita sesungguhnya tidak menginginkan penjenayah ini ‘diadili’ oleh hukum kufur kerana sememangya tidak akan ada keadilan di dalamnya kerana sesungguhnya kita yakin bahawa keadilan itu hanya akan dapat dicapai jika hukum Islam dilaksanakan. Kita juga yakin bahawa selagi hukum kufur ini terus membelenggu kita, maka kes-kes pembunuhan kejam seperti ini tidak akan dapat dihindari. Justeru, tidak ada lagi jalan untuk keluar dari keadaan yang amat buruk ini kecuali kita berusaha untuk menegakkan Daulah Khilafah di mana hanya dengan tertegaknya Khilafah sahajalah, barulah manusia akan benar-benar mendapat keadilan dan dunia ini akan berada dalam kesejahteraan dan kerahmatan kerana di kala itu hukum Allah menjadi hukum yang menaungi kita semua.

gejala-sosial2 rakan lelaki 3 remaja perempuan hilang direman


GEORGETOWN 22 Sept. – Dua lelaki yang ditemui bersama tiga remaja perempuan yang dilaporkan hilang sebelum ini, hari ini ditahan reman bagi membantu siasatan berhubung kes rogol gadis bawah umur.  Ketua Polis Daerah Timur Laut, Asisten Komisioner Gan Kong Meng berkata, kedua-dua lelaki berusia 19 dan 20 tahun itu yang berasal dari Kampar dan Teluk Intan, Perak, ditahan reman selama tujuh hari mengikut Seksyen 376 Kanun Keseksaan yang memperuntukkan hukuman penjara maksimum 20 tahun dan sebatan, jika sabit kesalahan.  Kedua-dua mereka ditemui bersama remaja pasangan kembar, Nurul Ain Kamarazmi dan Nurul Ashiqin, 14, serta teman sebaya, Suhaili Abd. Razak yang dilaporkan hilang di Kampar sejak 11 September lepas dan ditemui dalam sebuah flat di sini semalam.  “Berdasarkan keterangan tiga remaja wanita terbabit, mereka mengaku melakukan hubungan seks dengan dua lelaki itu ketika berada di sebuah hotel murah di Jalan Pintal Tali di sini,” katanya pada sidang akhbar di sini hari ini.

Katanya, hasil pemeriksaan di Hospital Pulau Pinang mendapati terdapat kesan koyakan pada kemaluan tiga remaja perempuan terbabit dan polis kini sedang menjalankan siasatan.  Beliau berkata, mereka memberi kerjasama dan mengakui secara rela hati mengikut teman lelaki ke negeri ini pada 14 September iaitu tiga hari selepas mereka dilaporkan hilang. – Bernama

Sumber: Utusan Malaysia 21/09/10

Penagih dadah Terengganu meningkat 1,366.67%

KUALA TERENGGANU – Terengganu merekodkan jumlah penagih dadah yang tinggi sepanjang tujuh bulan pertama tahun ini iaitu sebanyak 1,584 penagih berbanding hanya 108 bagi tempoh yang sama tahun lalu iaitu meningkat kepada 1,366.67 peratus.  Pengarah Agensi Anti Dadah Kebangsaan (AADK) negeri Terengganu Wan Addenan Wan Mohd. Noor berkata, daerah Besut mencatatkan bilangan penagih paling tinggi iaitu seramai 445 diikuti daerah Kemaman (351) dan Kuala Terengganu (229) manakala Dungun (188), Hulu Terengganu (128) dan Setiu (91).  “Kita dapati daerah-daerah yang berada di sempadan mencatatkan penagihan yang tinggi seperti Besut dan Kemaman manakala daerah-daerah lain juga turut meningkat,” katanya ketika ditemui pada majlis Hari Raya AADK negeri Terengganu di sini hari ini.   Beliau berkata, mengikut profil penagih, 98.2 peratus adalah lelaki dan 98.5 peratus merupakan keturunan Melayu manakala 78.53 peratus terdiri daripada golongan belia yang berumur antara 19 dan 39 tahun.  Katanya, sebanyak 32.36 peratus penagih pula mengambil methamphetamine, 12.63 peratus morfin manakala 9.72 peratus penagih amphetamine. – Bernama

Sumber: KOSMO 20/09/10


Mahasiswa IPTA buang bayi di belakang dapur

KUBANG PASU 19 Sept. – Seorang bayi perempuan yang masih bertali pusat menerima nasib malang apabila dibuang ibunya sendiri di belakang pintu dapur sebuah rumah di Taman Rasa Sayang di sini, semalam.  Tidak cukup dengan itu, seorang gadis dipercayai ibu bayi berkenaan telah berpura-pura kononnya ‘menemui’ seorang bayi di belakang rumah tersebut kira-kira pukul 8 malam semalam.  Difahamkan, bayi tersebut dibuang ibunya sendiri yang merupakan seorang penuntut di salah sebuah institut pengajian tinggi awam (IPTA) di daerah ini.  Gadis tersebut yang berusia 20 tahun, dikatakan melahirkan bayi tersebut di rumahnya namun bertindak membuang bayinya di belakang rumah itu bagi mengelakkan perkara tersebut diketahui ramai.  Timbalan Ketua Polis daerah, Deputi Supritendan Ibrahim Mohd. Yusoff memberitahu, bayi itu kemudiannya dibawa ke Hospital Jitra untuk mendapatkan rawatan. Menurutnya, hasil siasatan, polis kemudian menahan seorang penuntut IPTA berusia 20 tahun pada pukul 9 malam bagi membantu siasatan.  “Pelajar terbabit ditahan di kawasan berhampiran dan dia ketika ini menerima rawatan di hospital sama,” katanya.  Ibrahim berkata, kes itu disiasat di bawah Seksyen 317 Kanun Keseksaan.


Sumber: Utusan Malaysia 20/09/10

Kontraktor disyaki dera tunang hamil ditangkap

KUALA LUMPUR 22 Sept. – Seorang kontraktor ditahan polis bagi membantu siasatan kes seorang remaja perempuan hamil yang koma setelah perutnya dipercayai dipijak sehingga bayi dalam kandungannya gugur di Batang Kali dekat sini, Jumaat lalu.  Sumber polis memberitahu, suspek yang ditahan merupakan tunang kepada remaja perempuan berusia 18 tahun itu.  Katanya, lelaki berusia 30-an itu disyaki memukul mangsa menyebabkan tunangnya mengalami keguguran dan tidak sedarkan diri sehingga kini.  Katanya, kontraktor terbabit kini ditahan reman selama empat hari untuk membantu siasatan mengikut Seksyen 324 Kanun Keseksaan.  “Siasatan polis mendapati, mangsa sebelum ini ditemui oleh ahli keluarganya berlumuran darah dalam bilik air di rumahnya di Batang Kali pada pukul 4 pagi, Jumaat lalu.   “Ketika ditemui oleh keluarganya, remaja perempuan itu sedang menggelupur kesakitan dipercayai menghidap sawan sebelum dibaringkan di atas katil. “Ahli keluarga dan jiran mangsa kemudian menyedari wanita itu sedang hamil dan berusaha mengeluarkan bayi dalam kandungan namun tidak sempat setelah kandungannya disahkan gugur,” katanya ketika dihubungi di sini, hari ini. Sumber berkata, keluarga mangsa kemudian membawa gadis malang dan mayat bayi itu ke Hospital Selayang.   Sehingga kini, katanya, mangsa masih dirawat di hospital dan bergantung kepada alat bantuan pernafasan untuk terus hidup.  Pada Jumaat lalu, pihak Hospital Selayang membuat laporan polis setelah pemeriksaan mendapati perut remaja perempuan itu ada kesan lebam disyaki dipijak menyebabkan dia mengalami keguguran dan tidak sedarkan diri.

Sumber: Utusan Malaysia 22/09/10

Apa Nak Jadi Dengan 1Malaysia Kebanggaan Najib?

Najib yang terus mengusung ke sana ke mari idea dan gagasan 1Malaysia nampaknya terus dilambakkan dengan 1001 macam masalah masyarakat yang berlaku hampir setiap hari di seluruh negara. Lihat dan perhatikanlah cebisan laporan akhbar di atas.  Pelaku dan mangsa yang terlibat rata-ratanya adalah terdiri dari golongan remaja. Apakah denyut jantung Najib tidak berdegup kencang apabila membaca dan mendengar berita-berita seperti d iatas? Hanya mereka yang pekak, bisu, buta dan mati hatinya sahajalah yang tidak merasa apa-apa dengan kejadian yang berlaku. Sedangkan jika kita perhatikan dengan sudut pandangan Islam ternyata dan terbukti betapa sistem masyarakat yang digunapakai oleh pemerintahan yang diterajui oleh Najib hari ini adalah merupakan sistem yang rosak lagi merosakkan.

Jika kita teliti dan kaji secara mendalam dan cemerlang maka sudah pasti kita akan mendapati bahawa sebenarnya sistem sekular Kapitalisme yang diwarisi oleh Najib hari inilah sebenarnya punca dan penyumbang terbesar kepada masalah-masalah yang berlaku di dalam masyarakat hari ini. Tetapi malangnya, sering kali apabila kes-kes seperti di atas diulas dan dibincangkan di mana-mana forum maka ramailah ”tokoh-tokoh yang terpilih” akan menuding 10 jari mereka kesemuanya kepada institusi keluarga, ibu-bapa dan juga individu itu sendiri tanpa ada satu jari pun yang mereka tujukan kepada pemerintah yang ada pada hari ini. Apakah mata tokoh-tokoh yang berbicara ini buta dalam melihat sistem yang diterapkan oleh pemerintah sekular hari ini sebagai penyumbang dan penyebab sebenar kepada masalah ini?

Terlampau jarang kedengaran teguran dan kritikan mahupun muhasabah yang ditujukan kepada pemerintah sekular dalam isu ini. Akibatnya kita dapat menyaksikan secara jelas bagaimana pemerintah sekular hari ini secara berterusan dengan tanpa rasa malu dan bersalah tetap tegar menerapkan dan mempertahankan sistem pemerintahan yang terhasil dari ciptaan akal-akal manusia sedangkan sistem kehidupan selain dari kehidupan Islam yang diturunkan oleh Allah SWT adalah sistem kehidupan jahiliyyah. Firman Allah SWT: ”Sesudah itu, patutkah mereka berkehendak lagi kepada hukum-hukum jahiliyyah? Padahal – kepada orang-orang yang penuh keyakinan – tidak ada sesiapa yang boleh membuat hukum yang lebih baik daripada Allah”. [TMQ Al Maaidah (5) : 50].

Lihat SN083 – MASYARAKAT JAHILIYYAH DI MALAYSIA

-mykhilafah.com-

qisasMufti Kedah Saran Hukum Qisas Bagi Kesalahan Jenayah Bunuh

ALOR SETAR – Masyarakat kini harus kembali kepada ajaran al-Quran dengan melaksanakan hukum Qisas atau hukum balas bagi kesalahan jenayah melampau yang disifatkan kejam dan di luar tabii.

Mufti Kedah, Datuk Sheikh Muhamad Baderudin Ahmad berkata, hanya hukuman yang boleh memberi pengajaran kepada pesalah dan orang sekeliling dapat membendung jenayah kejam daripada terus berleluasa.

“Hukuman sedia ada tidak memberi pengajaran sewajarnya kepada masyarakat, tidak hairanlah jenayah makin berleluasa sehingga ada pihak sanggup membunuh warga emas, kanak-kanak mahupun membuang bayi tanpa ada belas kasihan,” katanya.

Sheikh Muhamad Baderudin berkata, hukuman Qisas seperti yang termaktub dalam kitab suci adalah sesuai untuk semua zaman, malah Allah SWT telah menyebut bahawa hukuman ini dapat memberi kehidupan yang selesa pada masyarakat.

“Apabila masyarakat melihat kesan daripada hukuman ini, contohnya mencuri hukumannya potong tangan. Mereka akan takut untuk melakukan jenayah itu kerana boleh menyebabkan mereka hilang anggota badan. Oleh itu mereka tidak berani buat begitu pada orang lain kerana hukum balas ini adalah supaya pesalah merasai keperitan mangsa,” katanya.

Sheikh Muhamad Baderudin mengulas kejadian tragis yang menimpa jutawan kosmetik, Datuk Sosilawati Lawiya dan tiga rakannya yang dipukul, dibunuh dan dibakar selain abu mayat kesemua mangsa dibuang ke dalam sungai, baru-baru ini.

Tragedi yang turut memberi kesan pada masyarakat ialah insiden seorang warga emas wanita, Lian Osman, 74, yang tinggal bersendirian di Yan, mati dibunuh selepas disamun di dalam rumah sendiri pada 15 Ogos lalu.

Kejadian lain membabitkan seorang wanita berusia 26 tahun, Suhana Mohd Shariff dari Kota Tanah, dekat sini, yang ditikam rakan baiknya sendiri sebanyak tujuh kali di perut menggunakan sebilah pisau pemotong sayur sepanjang 17.8 sentimeter. Kejadian pada 2 Mei itu menggemparkan rakyat Kedah kerana dianggap kejam dan tidak berperikemanusiaan.   Sheikh Muhamad Baderudin berkata, manusia menjadi semakin kejam apabila kehidupan mereka bertunjangkan duniawi sehingga sanggup berbunuhan demi harta kekayaan.

“Banyak faktor yang menyumbang kepada kekejaman, antaranya tekanan hidup, gila harta dan kuasa. Sikap cintakan duniawi punca berlakunya kepincangan dalam masyarakat. Kita sudah hilang nilai-nilai murni dan agama yang sepatutnya dipupuk sejak kecil,” katanya.

Menurutnya, ajaran Islam tidak hanya mementingkan hukuman setimpal, sebaliknya sebelum pesalah dikenakan hukuman, mereka perlu diberi didikan.

“Jika didikan tidak beri kesan, barulah dikenakan hukuman setimpal yang boleh memberi pengajaran. Ini termasuk gejala sosial seperti buang anak dan berzina,” katanya.

Sheikh Muhamad Baderudin turut kesal kerana perbuatan kejam yang banyak dipaparkan di dada akhbar menunjukkan realiti kepincangan masyarakat kini.

“Orang yang bertamadun tidak akan melakukan kekejaman yang melampau,” katanya.

Sumber: Sinar Harian: 17/09/10

Saranan Pak Mufti Itu Sewajibnya Diarahkan Kepada Najib

Qisas itu satu kewajiban! Firman Allah SWT: “Wahai orang-orang Yang beriman! Diwajibkan kamu menjalankan hukuman “Qisas” (balasan yang seimbang) Dalam perkara orang-orang yang mati dibunuh iaitu: orang merdeka dengan orang merdeka, dan hamba dengan hamba, dan perempuan dengan perempuan. maka sesiapa (pembunuh) yang dapat sebahagian keampunan dari saudaranya (pihak yang terbunuh), maka hendaklah orang yang mengampunkan itu) mengikut cara yang baik (dalam menuntut ganti nyawa), dan (si pembunuh pula) hendaklah menunaikan bayaran ganti nyawa itu) dengan sebaik-baiknya. Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari tuhan kamu serta suatu rahmat kemudahan. sesudah itu sesiapa yang melampaui batas (untuk membalas dendam pula) maka baginya azab seksa yang tidak terperi sakitnya”. [TMQ Al Baqarah (2) : 178].

Tidak ada istilah saranan sebenarnya. Tambahan pula adalah tidak kena tempat dan gayanya apabila Mufti Kedah menyarankan masyarakat kini harus kembali kepada ajaran al-Quran dengan melaksanakan hukum Qisas atau hukum balas bagi kesalahan jenayah melampau yang disifatkan kejam dan di luar tabii. Ini kerana hakikatnya bidang kuasa untuk menerapkan sesuatu hukuman itu adalah wilayah dan tanggungjawab pemerintah. Dalam konteks negara Malaysia ini, sewajarnya pihak mufti secara khusus menyatakan dan mengarahkan seruan ini kepada Najib, bukan kepada pihak lain. Sewajarnya seruan itu dikumandangkan dan diperjuangkan oleh beliau dan oleh seluruh umat Islam yang lainnya dan tidak seharusnya bersifat bermusim.

Islam sebagai satu cara hidup yang sempurna telah menjelaskan bahawa bentuk ‘uqubat di dalam Islam itu ada empat iaitu hudud, qisas, takzir dan mukhalafat.  Falsafah sistem ‘uqubat dalam Islam adalah sebagai zawajir (pencegah) dan jawabir (penebus). Ia disebut sebagai zawajir kerana jika diterapkan hukuman tersebut maka ia akan mampu mencegah orang lain dari berkeinginan untuk melakukan kesalahan yang sama. Hal ini sebagaimana yang dinyatakan oleh Allah SWT: “Dan dalam hukuman qisas iu terdapat kehidupan bagi kalian wahai orang-orang yang beraqal supaya kamu bertakwa”. [TMQ al-Baqarah (2) : 179].

Ia juga berfungsi sebagai penebus (jawabir), yakni hukuman yang dijatuhkan di dunia atas kejahatan yang dilakukan itu akan dapat menghapuskan hukuman di akhirat yang jauh lebih berat dan dahsyat. ”Hukuman di
dunia telah menjadi kafarah bagi hukuman di akhirat” [HR.Bukhari].

Wahai Pak Mufti! Wahai seluruh umat Islam! Hukuman Islam yang berfungsi sebagai zawajir dan jawabir itu akan pasti menyelamatkan individu khususnya dan masyarakat amnya, menjamin keadilan bagi mangsa dan  menyelamatkan si pesalah. Inilah yang dikatakan bahawa sistem ‘uqubat Islam itu mencakupi wilayah dunia dan juga akhirat. Inilah keunggulan sistem ‘uqubat Islam.

Rasulullah SAW pernah mengibaratkan masyarakat itu seperti sebuah perahu yang penuh dengan penumpang. Penumpang di sebelah bawah perlu mendapatkan air minuman dari tingkat atas perahu tersebut. Jika ada salah seorang penumpang yang mengambil jalan pintas untuk mendapatkan air, dengan menebuk bahagian bawah perahu tersebut, maka dia mesti dicegah. Jika tidak, maka air akan memasuki perahu tersebut sehingga akhirnya tenggelam. Bukan hanya orang yang menebuk perahu itu saja yang akan tenggelam, tetapi seluruh penumpang yang ada di dalam perahu/kapal.

Sistem hukuman yang tidak sempurna, secara umumnnya, memiliki ciri:

1.    Tidak mampu mencegah kemaksiatan.
2.    Tidak mampu membuatkan pelakunya insaf.
3.    Tidak dapat menghalang kejahatan dan kejahatan muncul di serata tempat secara kolektif.

Setiap manusia pasti mengharapkan kehidupan yang tenteram dan aman. Suasana ini akan hanya dapat diberikan oleh sebuah sistem hukuman yang adil. Masyarakat yang mendambakan kehidupan seperti itu terlebih dahulu mestilah terikat dengan hukum dan sistem yang diturunkan oleh Allah SWT. Bagi umat Islam, keterikatan dengan hukum Islam adalah merupakan konsekuensi dari aqidah yang diyakini. Sudah cukup banyak dan berbagai kemaksiatan terjadi di bumi ini, apapun bentuknya, siapapun pelakunya, yang kita tidak ketahui adalah bila ia akan segera berakhir. Sesuatu hukuman itu mestilah “digantung” pada satu prinsip – untuk menghilangkan kesamaran dan kesimpang siuran. Sungguh naif apabila sesuatu sistem hukuman itu dijalankan sesuai dengan proses kognitif subjek yang menegakkannya. Ini hanya akan menimbulkan kecenderongan pada suatu pihak dan ia malah akan memperpanjangkan lagi masalah. Apa yang pasti ialah bahawa sistem Islam memberikan solusi yang terbaik untuk kehidupan manusia buat selama-selamanya. Hukum Allah adalah hukum yang absolut. Ia tidak cenderung kepada mana-mana manusia kerana ia datang dari Allah Maha Pencipta! Firman Allah SWT: “Sesudah itu, patutkah mereka berkehendak lagi kepada hukum-hukum jahiliyah? Padahal – kepada orang-orang yang penuh keyakinan – tidak ada sesiapa yang boleh membuat hukum yang lebih baik daripada Allah”. [TMQ Al Maa-idah (5) : 50]. Lihat SN 126: Qisas Itu Wajib!

Soalan:

Saya membaca sebuah hadis dari Abu Dawud dimana dia berkata:

محرم ذو معها إلا بريداً ا تسافر أن لآخر واليوم بالله تؤمن لامرأة يحل لا

“Seorang wanita yang beriman dengan Allah dan hari akhirat tidak dibolehkan melakukan perjalanan tanpa seorang mahram”,

jadi bagaimanakah perkara ini jika kita mengambil kira sebuah hadis lain:

لا يحل لامرأة تؤمن بالله واليوم الآخر أن تسافر مسيرة يوم وليلة إلا معها ذو محرم

“Seorang wanita yang beriman dengan Allah dan hari akhirat tidak dibolehkan bermusafir untuk waktu perjalanan yang mengambil masa sehari semalam tanpa seorang mahram”,

walaupun mengetahui waktu perjalanan boleh dilakukan kurang dari sehari?

Jawapan :

Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Ibnu Abbas (semoga Allah merahmati mereka) bahawa Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

لا تسافر المرأة إلا مع ذي محرم

“Seorang wanita tidak boleh bermusafir tanpa seorang mahram”

Ini adalah larangan untuk wanita bermusafir secara amnya kecuali disertai oleh seorang mahramnya. Batas waktu perjalanan yang dimaksudkan dalam bermusafir ini adalah sehari, sehari semalam, dua atau tiga hari:

1) Al –Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Omar (tiga hari), dan dari Abi Sa’eed Al-Khudari (dua hari) dan dari Abu Hurairah (sehari semalam) dan dari Ibnu Abbas dan Ibnu Omar (sehari semalam).

2) Muslim meriwayatkan dari Ibnu Omar (tiga, lebih dari tiga) dan dari Ibnu Sa’eed Al-Khudari (dua hari, tiga, lebih dari tiga) dan dari Abi Hurairah, Ibnu Abbas dan Abi Hurairah (sehari semalam).

3) Al-Tirmidzi meriwayatkan dari Abi Sa’eed Al-Khudari (lebih tiga hari), dan dari Abi Hurairah (sehari semalam). 4) Ibnu Majah meriwayatkan dari Abi Sa’eed (lebih tiga).

5) Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Omar (tiga), dan dari Abdallah Ibnu Omar (tempoh masa tiga hari), dan dari Abi Hurairah (tiga hari, tempoh perjalanan satu hari suntuk), dan dari Abi Sa’eed (tiga hari, dua hari, tiga, lebih dua hari, dua hari).

6) Al-Darmi meriwayatkan dari Abi Sa’eed (lebih tiga hari).

7) Abu Dawud meriwayatkan dari Abi Hurairah (satu malam, sehari semalam). Dan sebelumnya ia diriwayatkan dari Abi Hurairah (jarak perjalanan). Oleh yang demikian, batas waktu bermusafir yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Muslim, Al-Tirmidzi, Ahmad, Al-Darmi dan Abu Dawud dalam erti tempoh masa (tiga hari, atau tiga malam, dua hari, sehari semalam, satu malam).

Setelah meneliti perkara yang mutlak keatas perkara yang terhad (muqayad), serta mengumpul segala bukti, Hukum Syarak bagi seorang wanita adalah tidak dibolehkan bermusafir untuk tempoh masa yang singkat tanpa seorang muhrim, bererti tidak dibolehkan juga untuk bermusafir untuk tempoh satu malam, kerana tidak boleh bermusafir untuk tempoh satu malam juga membawa maksud tidak boleh bermusafir untuk tempoh dua atau tiga hari,.kerana dalam bahasa Arab, penggunaan kata – malam membawa maksud keseluruhan hari – sehari semalam .

Allah Subhanahu wa Taala berfirman:

سوياً ليال ثلاث الناس تكلم ألا آيتك قال

“Tanda bagimu ialah bahawa kamu tidak dapat bercakap-cakap dengan manusia selama tiga malam, padahal kamu sihat” [TMQ Mariam : 10]

Dan Allah Subhanahu wa Taala berfirman:

قال آيتك ألا تكلم الناس ثلاثة أيام إلا رمزا

“Allah telah berfirman: Tandanya bagimu, kamu tidak dapat berkata-kata dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat.” [TMQ Al-Imran : 41]

Didalam kedua – dua ayat tersebut, malam bermaksud hari. Orang-orang Arab berkata:

كتبته لكذا ليلة خلت من شهر كذا,

“Saya menulisnya untuk beberapa malam yang berakhir pada bulan ini atau itu” yang bermaksud untuk beberapa hari.

Oleh yang demikian, bermusafir untuk tempoh masa sehari semalam adalah dilarang kecuali bersama suami atau mahram, dan inilah yang telah kita adopsi.

Apa yang didapati dari riwayat Abu Dawud adalah had jarak perjalanan (بريدا) dan jaraknya adalah empat parasang, iaitu lebih kurang 22 kilometer dan apa yang boleh difahami dari riwayat ini adalah seperti berikut:

  1. Ia menghadkan jarak bermusafir, yang bermaksud bukan tempoh waktu perjalanan. Oleh itu seorang wanita memerlukan seorang mahram jika bermusafir sejauh 22 kilometer tanpa mengambil kira perjalanan tersebut mengambil masa sehari atau dua hari.

Manakala hadis yang satu lagi menerangkan had waktu bermusafir iaitu sehari semalam, tanpa mengira sama ada dia merentas seratus atau beratus kilometer. Oleh itu, bercakap mengenai jarak akan membatalkan masa dan bercakap tentang masa akan membatalkan jarak.

Maka, di sini ada percanggahan pendapat dan apabila ada percanggahan pendapat, kita perlu mengambil yang lebih banyak kemungkinan kerana lebih nyata dari hadis Al-Bukhari, Muslim dan Sirah yang lain, malah dalam kebanyakan periwayatan Abu Dawud, beliau juga merujuk kepada tempoh masa, kerana semua ini melebihi periwayatan Abu Dawud sendiri yang hanya sekali merujuk jarak perjalanan

بريدا) .2. Periwayatan Abu Dawud mengenai jarak perjalanan (بريدا) adalah seperti berikut: Yusuf Ibnu Musa berkata kepada kami, dari Jareer dari Suheil dari Saeed Ibnu Abi Sa’eed dari Abi Hurairah, dia berkata bahawa Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

لا يحل لامرأة تؤمن بالله واليوم الآخر أن تسافر بريداً إلا معها ذو محرم

“Seorang wanita yang beriman dengan Allah dan hari akhirat dilarang untuk bermusafir – sejauh jarak perjalanan – kecuali dengan seorang mahram”.

Abu Dawud sendiri meriwayatkan dari Sa’eed Ibn Sa’eed dari Abi Hurairah empat hadis dimana beliau sendiri menyatakan sehari semalam. Abu Dawud juga meriwayatkan dari Sa’eed Ibn Abi Sa’eed dari bapanya dari Abi Hurairah, dua hadis dimana yang pertama dia berkata (satu malam) dan yang kedua dia berkata (satu hari dan satu malam). Oleh itu, semua periwayatan dari Abu Dawud setelah Sa’eed Ibn Abi Sa’eed (sekali setelah bapanya dan yang lain) setelah Abi Hurairah, beliau menyebut pembatasan kepada tempoh masa (sehari semalam).

Ahmad meriwayatkan hadis tersebut sama seperti Sa’eed Ibn Abi Sa’eed dari bapanya selepas Abi Hurairah yang menyebut keseluruhan hari: Hanya ada satu periwayatan dari Abu Dawud dari Sa’eed Ibn Abi Sa’eed selepas Abi Hurairah tentang jarak perjalanan.

Kesemua periwayatan ini menunjukkan dengan jelas Abi Hurairah meriwayatkan dari Sa’eed Ibnu Abi Sa’eed (atau bapanya) sehari semalam, dan tidak menyebut tentang jarak perjalanan.

Oleh yang demikian, berkemungkinan (sehari semalam) seperti yang kami sebut didalam buku sistem sosial bermaksud; لا يحل لامرأة تؤمن بالله واليوم الآخر أن تسافر مسيرة يوم وليلة إلا مع ذي محرم “Seorang wanita yang beriman dengan Allah dan hari akhirat dilarang bermusafir selama sehari semalam tanpa mahram”.

Seperti yang anda perhatikan, kami menyatakan perkara yang berkemungkinan, dan kami tidak memberi sebarang pendapat yang muktamad tentang perkara ini. Kedua, adalah apa yang kami perkatakan ialah dia boleh bermusafir kurang dari sehari semalam tanpa seorang mahram, tetapi kami tidak mengatakan bahawa dia harus berbuat sedemikian, kerana jika dia tidak mahu bermusafir dalam masa setengah hari kecuali dengan mahramnya, maka dia boleh berbuat demikian. Perkara yang lebih mustahak adalah dia dilarang bermusafir untuk tempoh masa sehari semalam kecuali dengan seorang mahram.

Oleh: Sheikh Ata ibn Khaleel Abu al- Rashta

Soalan:
en helmis,jika kita dah terjebak membuat pinjaman melibatkan riba,macamana nak keluar dari situasi itu?katalah saya ada buat pinjaman untuk membeli sebuah motosikal,kini dalam tahun kedua,ada lagi 3 tahun untuk proses ini berakhir.untuk bertaubat dari dosa akibat riba ini,adakah saya harus berusaha untuk membayar utk 3 thn yg akan datang secara cash?adakah dosa riba itu boleh terhapus atau teruskan membayar setiap bulan hingga tamat kerana telah terlanjur membuat pinjaman dan bertaubat.situasi masa mula2 tu buat pinjaman tu adalah kerana terpaksa.nak beli cash tak ckp duit,takde motor suami susah nak pegi kerja.bagaimana nak selesaikan masalah ini?harap en helmis boleh tolong beri pandangan.terima kasih

Jawapan saya:

Penipulah saya jika saya katakan saya sudah bebas dari riba, malah Nabi telah bersabda bahawa pada akhir zaman, jika seseorang itu berkata dia tidak terlibat dengan riba, wap riba itu sendiri akan terkena kepadanya.

Sudah semestilah langkah pertama adalah dengan bertaubat nasuha dan sedar akan kesilapan-kesilapan yang telah dilakukan. Perkara riba’ ini pada akhir zaman amat susah untuk mengenalinya kerana ianya didalangi oleh Dajjal. Hanya mereka yang cuba berusaha menghampiri Allah sahaja yang akan diberikan “nur” untuk melihat kebathilan itu. Tanamkan niat untuk tidak lagi membeli secara hutang yang tidak berlandaskan Islam, iaitu tiada unsur penindasan, baik yang konvensional ataupun yang berselindung disebalik jual beli ataupun bayaran pentadbiran.

Langkah kedua adalah dengan meningkatan keimanan kita kepada Allah, jika dahulu kita solat berlengah, maka solatlah pada awal waktu. jika dahulu solat tidak khusyuk, maka cuba berusaha untuk khusyuk kearah itu. Jika dahulu bertudung jambul berdada luas, maka perbetullah cara berpakaian agar mengikut apa yang Allah perintahkan. Kesemua perintah ALlah itu sebenarnya hadiah unutuk manusia itu sendriri, cuma disebabkn kita tidak boleh melihatnya dengan segera maka kita menjadi lalai dan hanya hilang ketakwaan kita kepad Allah, sedangkan dari ketakwaan itulah datangnya rezeki yang tidak disangka-sangka seperti maksud ayat seribu dinar, bukannya dengan menggantungkan ayat itu dan berpeluk tubuh menunggu datangnya pertolongan Allah.


Langkah ketiga adalah dengan berusaha mengumpul wang seberapa mampu untuk membayar balik hutang berlandaskan riba’ itu. Memang rata-rata umat Islam akan berkata, kalau hidup cukup makan sahaja macamana nak kumpul wang? Jawapan saya cuba bermuhasabah diri dan membuat pembentangan perbelanjaan harian dan bulanan. Catitkan kesemuanya kemana wang kita pergi dan cuba pastikan apa perbelanjaan sia-sia yang boleh dipotong, satu contoh yang saya boleh nampak adalah satelite TV dan bagi suami mungkin rokok. Walaupun beberapa puluh sahaja sebulan akan tetapi jika dikumpul-kumpulkan, sekurang-kurangnya boleh membayar balik pinjaman, dalam contoh saudari hutang motor suami mungkin seawal 6 bulan dari tempoh sebenar.


Sekurang-kurangnya kita menunjukkan kepada Allah yang kita telah melakukan usaha untuk lari dari riba dan Allah yang lebih hampir dari urat leher kita sendiri akan menghampiri kita 10 langkah lebih dari kita sendiri jika kita berusaha mendekatiNya, iaitu dengan usaha yang bersungguh-sungguh dan ikhlas untuk meninggalkan laranganNya.

Langkah keempat adalah dengan memperbanyakkan sedekah, mungkin ramai yang akan berkata “kalau duit nak bayar hutang pun tak ada macamana nak bagi sedekah?”. Ini berbalik kembali kepada keimanan kita, sebab rata-rata manusia beriman dan menerima Allah itu tuhan yang esa, tetapi rata-rata juga tidak percaya yang Allah itu maha pemurah, maha adil dan sebagainya. Bukti sangat jelas yang mana manusia lebih takutkan polis atau BPR dari Allah sendiri. Sedekah tidak semestinya beribu-ribu, ratus atau puluhan ringgit, yang paling utama adalah ikhlas dan Allah tahu apa ada didalam isi hati kita.


Jika kita fahami perkara buruk disebalik riba’ itu sendiri, kita akan dapati riba’ itu bukan sahaja kita menindas diri sendiri malah menindas insan-insan lain dengan membantu mencairkan nilai wang. Disebabkan nilai wang itu tidak terletak didalam wang itu sendiri seperti emas dan perak, maka nilainya boleh dimanipulasikan oleh pihak tertentu. Sebab itulah inflasi adalah suatu yang tetap didalam ekonomi kerana setiap tahun barang semakin mahal, hakikatnya nilai wang itu sendiri yang menyusut.

Dengan mengambil pinjaman, bank dengan senang lenangnya mencipta wang baru, lebih banyak wang akan berada didalam kitaran maka lebih cairlah nilai wang tersebut, jika 5 tahun lepas dengan 1 ringgit kita boleh menikmati nasi lemak dengan telur goreng, sekarang hanya nasi lemak kosong sahaja, maka kita yang meminjam 5 tahun lepas sebenarnya terlibat sama menyusahkan diri sendiri dan juga insan lain.

Cara untuk mem”bayar” balik kejahatan kita itu adalah dengan lebih ringan tulang membantu sesama manusia. Sedekah itu yang pertama dan seterusnya adalah dengan mengurangkan kesusahan insan lain. Dari memberi senyuman, berkongsi ilmu hinggalah membuang halangan dijalanan, ini semua adalah contoh-contoh kecil yang dianggap remeh akan tetapi tetap dicatit oleh malaikat dibahu kanan kita. Walaupun mungkin pahalanya sebesar zarah, moga dengan usaha kita ini sedikit demi sedikit boleh mengurangkan dosa kita bergelumang dengan riba’.

Langkah kelima pula adalah dengan berusaha mempastikan kita tidak menyokong mereka yang menyebabkan ekonomi ikut riba’ ini berleluasa. Sebarkan maklumat mengenai keburukan riba’ itu agar lebih banyak rakan-rakan lain yang masih lena bangun dari tidur yang panjang itu. Diakhirat nanti golongan ini akan cuba lari dari perhitungan Allah dan mereka barangkali akan memberi alasan “mereka yang pangkah aku”, maka ketika itu apa yang kita nak jawab?


Mungkin ada lagi langkah-langkah lain yang boleh dikongsi oleh rakan-rakan. Yang penting sekali adalah niat dan Allah maha mengetahui apa yang ada didalam hati kita. Insyaallah, bantuan Allah itu sentiasa hampir, cuma mungkin dengan sikap ketidak syukuran kita itu sahaja yang menolaknya.

___________________
Ini pendapat beliau. Bagaimana pula anda?